Kerugian Akibat Bencana Sulawesi Tengah Capai Rp. 13,82 Triliun

Petrus - 21 October 2018

SR, Jakarta – Dampak bencana selalu berpengaruh terhadap perekonomian daerah yang tetimpa musibah, karena capaian pembangunan yang telah dimiliki sebelumnya tiba-tiba hancur seketika akibat bencana. Terlebih bila kemampuan dalam menghadapi bencana masih rendah, maka dapat dipastikan dampak bencana akan besar, baik jumlah korban jiwa maupun kerugian ekonomi.

Bencana dalam skala cukup besar dapat langsung menyusutkan kapasitas produktif dalam skala besar, yang berakibat pada kerugian keuangan yang besar pula. Bahkan pertumbuhan pembangunan di wilayah terdampak bencana menjadi minus atau mengalami kemunduran, dalam rentang waktu tertentu.

Hal ini juga dialami Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong, yang terdampak langsung bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi. Hingga Minggu (21/10/2018) pukul 13.00 WIB, tercatat 2.256 orang meninggal dunia, yang sebarannya tercatat di Kota Palu 1.703 orang meninggal dunia, Donggala 171 orang, Sigi 366 orang, Parigi Moutong 15 orang dan Pasangkayu 1 orang.

“Semua korban sudah dimakamkan.  Sebanyak 1.309 orang hilang, 4.612 orang luka-luka dan 223.751 orang mengungsi di 122 titik,” terang Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), melalui keterangan pers yang diterima superradio.id.

Banyak bangunan dan infrastruktur yang hancur akibat bencana, dengan kerusakan yang meliputi 68.451 unit rumah, 327 unit rumah ibadah, 265 unit sekolah, perkantoran 78 unit, toko 362 unit, jalan 168 titik retak, jembatan 7 unit dan sebagainya. Data itu merupakan data sementara, yang akan bertambah seiring pendataan yang terus dilakukan.

Tim Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB terus melakukan pendataan dan melakukan kaji cepat untuk menghitung dampak bencana. Hasil perhitungan sementara terhadap kerugian dan kerusakan akibat bencana, berdasarkan data per 20 Oktober 2018, dan tercatat mencapai lebih dari Rp. 13,82 Triliun.

“Diperkirakan dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana ini akan bertambah, mengingat data yang digunakan adalah data sementara,” ujarnya.

Dari Rp. 13,82 Triliun dampak ekonomi akibat bencana Sulawesi Tengah, kerugian mencapai Rp. 1,99 Triliun dan kerusakan mencapai Rp 11,83 Triliun. Dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana ini meliputi 5 sektor pembangunan, yaitu kerugian dan kerusakan di sektor permukiman mencapai Rp. 7,95 Triliun, sektor infrastruktur Rp. 701,8 Milyar, sektor ekonomi produktif Rp. 1,66 Triliun, sektor sosial Rp. 3,13 Triliun, dan lintas sektor mencapai Rp. 378 Milyar.

Dampak kerugian dan kerusakan di sektor permukiman merupakan yang paling besar, karena luas dan masifnya dampak bencana. Hampir sepanjang pantai di Teluk Palu, bangunan rata dengan tanah dan rusak berat.

Terjangan tsunami dengan ketinggian antara 2,2 hingga 11,3 meter, dengan landaan terjauh mencapai hampir 0,5 km telah menghancurkan permukiman di sana. Begitu juga adanya amblesan dan pengangkatan permukiman di Balaroa. Likuifaksi yang menenggelamkan permukiman di Petobo, Jono Oge, dan Sibalaya, telah menyebabkan ribuan rumah hilang.

Berdasarkan sebaran wilayah, maka kerugian dan kerusakan di Kota Palu mencapai Rp. 7,63 Triliun, Kabupaten Sigi Rp. 4,29 Triliun, Donggala Rp. 1,61 Triliun, dan Parigi Moutong mencapai Rp. 393 Milyar. Perhitungan kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana, masih belum dilakukan perhitungan.

Diperkirakan untuk membangun kembali daerah terdampak bencana pada periode rehabilitasi dan rekonstruksi, akan memerlukan anggaran lebih dari Rp. 10 Triliun.

“Tentu ini bukan tugas yang mudah dan ringan, namun Pemerintah dan Pemda akan siap membangun kembali nantinya. Tentu membangun yang lebih baik dan aman, sesuai prinsip build back better and safer,” tandas Sutopo.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.