Kerajinan Caping Bambu, Upaya Warga Desa Karanggebang Melestarikan Warisan Leluhur

Petrus - 5 December 2017
Mbah Jemiah saat memproduksi caping di kediamannya (foto : Superradio/Gayuh Satria)

SR, Ponorogo – Desa Karanggebang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo dikenal sebagai sentra kerajinan topi anyaman dari bambu, atau lebih dikenal dengan sebutan caping. Puluhan warga Desa Karanggebang telah membuat kerajinan caping sejak tahun 1960. Semua proses dikerjakan sendiri, mulai penipisan batang bambu, proses penganyaman, hingga merangkai caping.

Kepala Dusun di Desa Karanggebang, Agus Wiyono menuturkan, warga di desanya yang berusia lanjut memang berprofesi sebagai pengrajin caping. Aktivitas ini menjadi kebiasaan atau warisan leluhur pada jaman dahulu, dan hingga kini warga yang sudah berusia lanjut masih memilih bekerja sebagai pengrajin caping.

“Jadi ada yang bertugas mengubah batang bambu menjadi tipis-tipis, ada yang menganyam caping setengah jadi, ada yang menganyam caping hingga jadi, ada yang membuat kerangka luar caping atau blengker,” ujar Agus, Selasa (5/12/2017).

Dalam satu bulan, 25 pengrajin mampu membuat 500 caping yang dijual ke pengepul. Selanjutnya caping produksi warga Karanggebang langsung dikirim ke Blitar dan Tulungagung, karena pangsa pasar disana dinilai lebih bagus dibandingkan dengan Ponorogo.

“Ponorogo kurang banyak peminatnya,” imbuhnya.

Salah satu pengrajin, Mbah Landep (84 tahun) menjelaskan, dalam satu hari ia mampu membuat 10 caping setengah jadi, yang nantinya jika dijual dihargai Rp. 4 ribu per buah.

“Saya beli bambu yang sudah tipis itu, saya tinggal menganyam, terus setengah jadi saya jual,” jelasnya.

Sementara itu, Mutiani (52 tahun) bertugas membuat blengker atau kerangka luar caping agar caping lebih tahan lama.

“Untuk satu blengker dijual Rp. 3 ribu,” ucapnya.

Pengrajin lainnya, Mbah Jemiah bertugas membuat caping berukuran besar, namun sayangnya untuk satu caping ini membutuhkan waktu hingga lima hari. Tidak hanya caping berukuran besar, dirinya terkadang membuat caping berukuran kecil.

“Satu hari langsung jadi satu caping, kalau bahannya sudah ada semua,” terangnya.

Warga Desa Karanggebang membuat lima jenis caping, mulai dari topi, plentis, buyuk, caping kecil dan caping besar. Untuk harga topi dijual Rp 3. ribu, plentis Rp 3. ribu, buyuk Rp. 10 ribu dan caping kecil Rp. 15 ribu.

“Disini memang sudah jadi tradisi, orang tua memilih bekerja membuat caping,” pungkasnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.