Kepercayaan Pada Lembaga Negara Sumber Kekuatan Utama

Yovie Wicaksono - 16 August 2018
Sidang Umum MPR di Jakarta, Kamis (16/8/2018). Foto : (Istimewa)

SR, Jakarta – Presiden Joko Widodo mengatakan kepercayaan rakyat kepada Lembaga Negara merupakan sumber kekuatan utama dalam melangkah. Lembaga-lembaga negara menjadi lembaga yang kuat dan berwibawa ketika rakyat menghormati, menaruh kepercayaan, dan juga memberikan dukungan terhadap tugas konstitusional yang diembannya.

“Dengan demikian, kita harus memaknai kritik dari rakyat kepada Lembaga-Lembaga Negara sebagai wujud kepedulian sekaligus harapan rakyat tersebut,” ujar Presiden Joko Widodo dalam pidatonya di depan Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Kamis (16/8/2018).

Dalam kesempatan itu, Jokowi mengatakan, sudah hampir empat tahun ini pemerintahan yang dipimpin olehnya berjuang memulihkan kepercayaan rakyat melalui kerja nyata membangun negeri, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, secara merata dan berkeadilan. Dikatakan bahwa pemerintah ingin agar rakyat di perbatasan, di pulau-pulau terluar, di kawasan tertinggal merasakan kehadiran Negara Republik Indonesia.

“Sebagai negara besar, dengan rentan geografis yang sangat luas, dengan 260 juta jiwa, dan 714 suku, kita harus memastikan Negara bekerja nyata mengurus dan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia,” kata Jokowi.

Pada tahun pertama pemerintahan, Jokowi bersama Kabinet Kerja membangun fondasi yang kokoh untuk menuju Indonesia yang lebih maju. Karena itu, pemerintah fokus pada percepatan pembangunan infrastruktur serta peningkatan produktivitas dan daya saing bangsa.

Menurutnya, percepatan pembangunan infrastruktur bukan hanya dimaksud untuk mengejar ketertinggalan dalam pembangunan infrastruktur, melainkan juga menumbuhkan sentra-sentra ekonomi baru yang mampu memberikan nilai tambah bagi daerah-daerah di seluruh penjuru Tanah Air.

“Satu hal yang tidak boleh kita lupakan dalam membangun bangsa ini adalah membangun mental dan karakter bangsa. Dalam hal ini, banyak yang masih salah pengertian bahwa ketika kita membangun infrastruktur fisik seperti jalan tol, bandara, dan juga MRT, LRT, dilihat hanya dari sisi fisiknya saja, padahal, sesungguhnya kita sedang membangun peradaban, membangun konektivitas budaya, membangun infrastruktur budaya baru. Pembangunan infrastruktur fisik harus dilihat sebagai cara untuk mempersatukan kita, mempercepat konektivitas budaya yang bisa mempertemukan berbagai budaya yang berbeda di seluruh Nusantara,” kata Jokowi.

Jokowi juga menyinggung mengenai sumber daya manusia yang ada di Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk hampir 260 juta jiwa,  ia percaya masa depan Indonesia terletak pada kemampuan bangsa mempersiapkan manusia Indonesia yang maju dan unggul.

Menurutnya, selama ini masyarakat lebih sering berbicara tentang sumber daya alam, tapi seakan lupa bahwa Indonesia memiliki kekuatan besar dalam bentuk sumber daya manusia. “Inilah sesungguhnya modal terbesar dan terkuat yang harus kita miliki,” kata Jokowi.

Oleh karena itu, membangun manusia Indonesia adalah investasi bangsa untuk menghadapi masa depan, untuk melapangkan jalan menuju Indonesia maju. Pemerintah mempersiapkan manusia Indonesia menjadi manusia yang unggul sejak dalam kandungan sampai tumbuh secara mandiri untuk meningkatkan kesejahteraan diri dan keluarganya.

“Kita bekerja memastikan bahwa setiap anak Indonesia dapat lahir dengan sehat, dapat tumbuh dengan gizi yang cukup, bebas dari stunting. Ketika mereka memasuki usia sekolah, tidak boleh lagi anak-anak kita, termasuk anak-anak yatim piatu, terpaksa putus sekolah karena alasan biaya pendidikan yang tidak terjangkau. Komitmen inilah yang kita wujudkan melalui pembagian Kartu Indonesia pintar yang pada tahun 2017 sudah mencapai lebih dari 20 juta peserta didik, serta perluasan penyaluran program Beasiswa Bidik Misi bagi mahasiswa,” kata Jokowi.

Hadir dalam Sidang Paripurna tersebut Presiden RI ke 3 H. J. Habibie, Presiden RI ke 5 Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden RI ke 6 Try Sutrisno, Wakil Presiden RI ke 11  Boediono, para pejabat tinggi negara sahabat, serta para menteri Kabinet Kerja. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.