Kementerian Pertanian Tegaskan Info Telur Palsu Hoaks

Petrus - 20 March 2018
Ilustrasi. TPID Kota Kediri melakukan sidak harga sembako di pasar tradisional jelang Natal dan Tahun Baru (foto : Superradio/Rahman Halim)

SR, Jakarta – Kementerian Pertanian menegaskan bahwa berita mengenai telur palsu yang beredar di media sosial merupakan kabar bohong. Kementan sudah melakukan penelitian terhadap telur yang dikabarkan palsu, dan hasilnya telur tersebut adalah asli.

“Kami sudah menguji ke laboratorium telur yang diduga palsu di masyarakat, dan hasilnya kami pastikan bahwa telur tersebut asli. Mungkin cuma sudah terlalu lama. Makanya kita jangan simpan telur lama-lama, lebih dari empat minggu,” kata Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Syamsul Maarif, di Jakarta, Selasa (20/3/2018).

Menurut Syamsul, adanya telur palsu sangat tidak mungkin. Karena secara akal sehat, harga telur yang dipalsukan pasti lebih mahal.

“Harganya bisa mencapai 1,5 kali lebih tinggi dari harga aslinya. Sebab, hal itu membutuhkan teknologi untuk merekayasa produk biologis,” katanya.

Dijelaskan, ditemukannya telur-telur dengan ciri tidak normal seperti kuningnya yang lembek, putih telur terlalu cair, atau tidak lengket di tangan, kemungkinan karena faktor alam akibat penyimpanan yang terlalu lama.

“Biasanya telur itu sudah terlalu lama atau ayamnya sakit, sehingga mempengaruhi kondisi telur,” kata Syamsul.

Syamsul mengatakan, telur tidak dapat disimpan terlalu lama karena akan mempengaruhi konsistensinya. Di peternakan, tidak ada telur yang disimpan lebih dari seminggu. Begitu bertelur, keesokan harinya langsung didistribusikan ke konsumen. Idealnya, jangan simpan telur lebih dari empat minggu.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Sugiono, meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh dengan info hoaks itu karena telur tidak dapat dipalsukan.

“Telur produk biologis, tidak akan dapat dipalsukan, harga telur per kilogram jelas Rp. 20-23 ribu. Kalau ada yang mau memalsukan berapa biayanya, teknologi seperti apa yang digunakan, tidak mungkin bisa dipalsukan,” ujarnya.

Sugiono menjelaskan, telur sama seperti sperma yakni produk biologis, sehingga mustahil dipalsukan.

“Nanti ada sperma palsu, nanti ada produk biologis lain yang palsu. Itu impossible,” katanya.

Sementara itu, Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol. Setyo Wasisto mengatakan, adanya video singkat tentang telur palsu itu sangat meresahkan konsumen.

“Masyarakat jadi tidak yakin dan ragu saat mau beli di pasar atau toko,” kata Setyo.

Kepala Satuan Tugas Pangan tersebut juga mengatakan, isu telur palsu sangat meresahkan masyarakat, terutama menjelang bulan suci Ramadhan. Polri memastikan bahwa itu hoaks, karena sudah diselidiki ternyata tidak benar ada telur palsu.

Menurutnya, isu telur palsu pertama kali diketahui di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kemudian, polisi setempat melakukan penyelidikan dan ditemukan bahwa informasi itu tidak benar. Namun, hingga kini isu telur palsu kian berkembang dan semakin banyak.

Setyo mengatakan, hal ini sangat mengganggu situasi keamanan dan ketertiban masyarakat. Para peternak ayam akan merugi karena masyarakat jadi takut membeli telur. Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak lagi menyebarkan informasi telur palsu di media sosial. Jika kedapatan menyebar informasi hoakx, maka dapat dijerat dengan Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

“Jangan unggah ke medsos, karena ada Undang-Undang ITE. Siapa yang mengunggah berita palsu (bisa dikenakan) pasal 28, dia diancam hukuman maksimal enam tahun dan denda Rp.1 miliar,” katanya.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.