Kemenkes Pastikan Obat dan Alkes Terpenuhi Sampai Akhir Operasional Haji

Yovie Wicaksono - 12 September 2018
SR, Makkah – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menyiapkan 79 ton obat di Arab Saudi. Di Depo Farmasi Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) baik di Makkah maupun Madinah, tersedia 22 kelas terapi obat, seperti anti hipertensi, anti alergi, anti virus, anti inflamasi, anti histamin, anti biotik dan lainnya.
Kasi Perbekalan Kesehatan Arab Saudi 2018, Nadirah Rahim mengatakan, sampai akhir penyelenggaraan ibadah haji dipastikan perbekalan kesehatan berupa obat-obatan masih mencukupi. Hingga saat ini tidak ada kelangkaan obat, karena jenis obat yang disediakan sudah dipenuhi sesuai dengan Formularium Nasional Perbekalan Kesehatan pada Pelayanan Kesehatan Haji, berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.HK.02.02/Menkes/651/2016.
“Item-item obat yang ada di formularium semuanya dalam bentuk tunggal, bukan obat kombinasi sesuai dengan formularium yang disusun oleh Ditjen Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes RI. Sehingga beberapa petugas Kloter harus mencari obat kombinasi yang tidak ada dalam formularium. Obat ini memang tidak tersedia, namun substitusinya sesungguhnya telah disiapkan sesuai dengan formularium perbekalan kesehatan haji,” ujar Nadira, Rabu (12/9/2018).
Menurut Nadirah, di KKHI saat ini masih punya banyak stok obat, jenisnya pun banyak. Bahkan petugas kesehatan di Kloter (TKHI) yang sudah pulang ke Indonesia mengembalikan cukup banyak obat ke Depo di KKHI. Namun, bila tidak mengembalikan dapat memindahkan sisa obat ke ke Kloter temannya.
“Silakan saja, yang penting bisa didayagunakan,” kata Nadirah.
Koordinator Perbekalan Kesehatan Haji 2018 Ariyani Dwi Hartanti menyatakan, proses pengambilan obat sangat mudah. Tim Gerak Cepat (TGC) memiliki pos kesehatan di tiap Sektor. TKHI bisa mengambil stok obat di masing-masing sektor ini. Bila obat yang dimaksud tidak tersedia di Sektor, TKHI bisa mendapatkannya di KKHI.
“Jadi sebenarnya TKHI tidak perlu ke Depo (KKHI-red). Tapi bila ada obat yang diperlukan tidak ada di dalam paket di Sektor, maka petugas kesehatan di Kloter dapat mengambilnya ke KKHI,” kata Ariyani.
Ia menambahkan, Sektor mendapat paket obat dari KKHI setiap 4 hari sekali. Namun karena tidak semua Sektor memiliki ruangan yang cukup untuk menyimpan stok obat, maka biasanya stok akan dipenuhi pada hari lain.
“Hanya beberapa Sektor yang mengambil obat tidak semuanya, dan akan didorong pada hari berikutnya. Ini karena di Sektor itu tidak cukup ruangannya,” kata Ariyani.
Senada dengan Nadirah, Ariyani mengatakan tidak terjadi kekurangan obat di Kloter, karena Pemerintah telah menyiapkan penggantinya (substitsi). Dengan demikian tidak ada obat yang kosong.
“Harusnya bisa substitusi, misalnya analgetik yang ada disesuaikan dengan substitusi yang tersedia. Anti alergi yang tidak ada disubsitusi kepada anti alergi yang ada,” kata Ariyani.
dr. Dina Fitriani dari Kloter JKS 67 mengungkapkan, di Kloternya obat cukup mudah untuk didapatkan, terutama saat di Makkah cukup terbantu dengan stok obat yang ada di Sektor.
“Sehingga kami tidak perlu menunggu amprah atau push dari KKHI. Prosedurnya pun tidak rumit, sangat memudahkan kami TKHI,” kata Dina.
Sebelum berangkat ke Tanah Suci, para TKHI mendapat paket tas Kloter mulai dari embarkasi di Tanah Air. Selajutnya, pada saat pertama kali datang ke Makkah atau Madinah, TKHI mendapatkan paket standar sebagai paket push pertama. Kemudian pada hari ketiga, TKHI melaporkan sisa stoknya ke Siskohatkes Android. Pada hari ke 4, TKHI di Kloter mendapatkan paket push yang kedua dari Depo yang dikirimkan melalui sektor.
TKHI dari Kloter UPG 26 dr. Jihan Indriani menceritakan, bahwa selama memberi pelayanan kepada jemaah haji, kebutuhan obat untuk jamaahnya tercukupi.
“Prosesnya, kami mengambil obat di Sektor sesuai dengan yang dibutuhkan. Selanjutnya dapat kami berikan ke jemaah pada saat pemeriksaan,” kata Jihan.
Ia mengaku jarang mengambil obat ke KKHI karena cukup mengambil di Sektor.
“Semua obat yang dibutuhkan jamaah ada di Sektor. Yang paling banyak diperlukan jemaah adalah obat batuk. Bahkan untuk pasien sesak yang perlu di Nebu ada semua di Sektor. Kami bisa tangani sendiri,” katanya.
Tengku Zulfan Efendi, TKHI dari Kloter BTH 17 Batam, menyatakan hal yang sama. Pengambilan obat cukup dilakukan di Sektor, kecuali saat fase Armina lalu, ia sempat 2 kali mengambil di KKHI Mina.
“Ambil obat di Sektor 7 Makkah lancar, di Sektor tidak ada masalah. Waktu di Mina, sempat ambil obat 2 kali. Dan sampai pindah ke Madinah, obat masih cukup. Saat ini kami gunakan dulu obat yang masih ada. Untuk memberikan kepada jemaah, disesuaikan dengan dosis dan penyakit yang ada pada jemaah, serta sesuai protap,” kata Zulfan.
Jemaah haji asal Batam, Nashoha bin Parin menyatakan puas atas pelayanan kesehatan di Kloter. Menurutnya petugas kesehatan telah melayani jemaah secara baik, dengan rutin memeriksa pasien, serta mudah mendapatkan obat.
“Dokternya dan perawatnya baik, datang ke kamar-kamar memeriksa kami. Kalau perlu obat, juga gampang,” kata Nasoha.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.