Kekerasan yang Melibatkan Anak, Tugas Serius yang Harus Diatasi

Yovie Wicaksono - 11 February 2018
Ilustrasi. Anak-anak penghuni Kampung Anak Negeri berlatih olah raga tinju (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Aksi kekerasan yang dilakukan oleh anak usia sekolah terhadap teman, serta pemukulan oleh siswa terhadap guru di Sampang, Madura hingga meninggal dunia, menimbulkan keprihatinan di tengah masyarakat.

Kader Pekerja Sosial Masyarakat Kota Surabaya, Evy Handajani mengatakan, banyakanya aksi kekerasan yang melibatkan anak tidak lepas dari persoalan yang ada di dalam keluarga. Selai  itu, pola asuh anak yang kurang tepat atau salah, menjadi pemicu anak sulit menerima pendidikan karakter yang baik. Keluarga menjadi pihak yang paling vital dalam upaya mengembalikan anak pada kondisi yang baik, selain pemerintah dan lembaga pendidikan.

“Sebaik apa pun kita menangani, tetapi kalau dukungan dari keluarga kurang, itu nanti juga berpengaruh dalam proses recovery dia untuk balik ke tempat yang kita harapkan. Ketika dukungan keluarga kurang, itu tidak akan efektif. Tapi kalau dukungan keluarga bagus, itu nanti hasilnya juga bagus,” terang Evy Handajani.

Permainan di telepon genggam, tontonan televisi, youtube, serta sarana bermain online yang dapat diakses dengan mudah oleh anak di warung internet, diduga menjadi penyebab perubahan perilaku pada anak yang mengarah ke kekerasan. Tutut Guntari, Guru SMP Negeri 3 Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk mengatakan, tidak hanya di kota besar, kota kecil hingga di pedesaan ikut merasakan dampak dari merebaknya permainan kekerasan.

“Selain pendidikan di rumah, tontonan di televisi juga, youtube, kekerasan yang ada di game, terutama game-game online dan game yang bisa diakses di rental-rental itu, terutama kalau di desa-desa seperti playstation semacam itu. Game HP juga marak, apa saja yang ada di kota itu, di desa juga sekarang sangat mudah, seakan-akan itu informasi ada di jari-jari anak-anak itu, tinggal pencet, mereka tanpa pengawasan, tanpa bimbingan orang tua,” papar Tutut.

Menurut Guru SD Katolik Santo Aloysius Surabaya, Anang Waluyo, fenomena kekerasan saat ini banyak dipicu tontonan dan permainan berbau kekerasan, namun aksi kekerasan yang banyak terjadi akhir-akhir ini telah terjadi jauh sebelum teknologi berkembang pesat pada zaman ini.

Fenomena aksi kekerasan pada anak kata Anang, telah menjadi budaya yang dianggap mampu menyelesaikan setiap persoalan. Bahkan dengan kemajuan teknologi sekaramg ini, telah mampu menjadikan kekerasan sebagai jualan atau sesuatu yang mendatangkan keuntungan ekonomi.

“Fenomena kekerasan ini tanpa diiringi oleh kemajuan teknologi yang seperti sekarang ini sebetulnya sudah cukup jamak terjadi, bagaimana anak-anak melihat orang tua mereka, masyarakat, membaca, melihat, bahwa budaya kekerasan ini menjadi jalan tengah untuk sebuah konflik yang terjadi, entah interpersonal, entah antar kelompak, menjadi sebuah fenomena penyelesaian. Nah, orang-orang yang punya tujuan ekonomi melihat ini sebagai sebuah kesempatan. Kekerasan, fenomena ini kemudian diciptakan,” ungkap Anang.

Contoh perilaku yang baik dari orang tua harus selalu diberikan, agar anak meneladani sikap dan perilaku orang tuanya yang baik. Anang juga meminta orang tua melakukan pendampingan dan pembinaan dengan baik, terkait pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, agar tidak lagi menjadikan aksi kekerasan sebagai jalan tengah penyelesaian suatu masalah.

“Bagaimana sekarang kita sebagai orang tua juga sadar sepenuh-penuhnya bahwa kondisi ini tidak menjadi sebuah jalan yang baik untuk anak-anak. Bagaimana orang tua menjadi titik tengah keseimbangan ini. Anak dengan segala kemajuannya, lewat aplikasi tertentu sudah bisa mendownload ini via handphone, itu bisa didownload dengan mudahnya. Apakah orang tua cukup memiliki waktu untuk bisa mendampingi anak, melihat bahwa apa yang mereka lakukan ini sebagai sesuatu yang baik atau tidak. Bagaimana orang tua menjadi contoh bahwa setiap perbuatan yang baik itu sesuatu yang menular menjadi sebuah perbuatan yang baik,” kata Anang Waluyo.

Data Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur menyebutkan, terdapat 390 kasus kekerasan selama 2017, dengan jumlah korban sebanyak 466 orang, dan pelaku sebanyak 570 orang. Mdeski angka ini mengalami penurunan dibanding 2016, yakni sebanyak 523 kasus, meningkatnya jumlah pelaku kekerasan harus menjadi catatan tersendiri.

Isa Anshori, Sekretaris LPA Jawa Timur menyebutkan, Kota Surabaya berada di posisi pertama untuk kasus kekerasan dengan 82 kasus, disusul Malang 48 kasus, Gresik 24 kasus, Sampang 17 kasus, dan Sidoarjo 15 kasus. Hal ini membultikan bahwa pendidikan karakter pada anak mengalami kemunduran, baik di lembaga pendidikan maupun di dalam keluarga, yang terlihat dari perubahan perilaku pada anak dari kecenderungan melakukan kekerasan.

“Melawan guru sebetulnya sikap kurang bertanggunjawab, disitu terlihat bahwa mulai ada sikap tidak menghargai kepada siapa pun yang sejatinya berjasa kepada diri kita sendiri. Ini bagian dari catatan, bahwa kasus Sampang itu cacatan sebagai mundurnya pendidikan karakter di dunia pendidikan,” ujar Isa Anshori.

Direktur Eksekutif Surabaya Children Crisis Center (SCCC), Edward Dewaruci menuturkan, fenomena ini harus disikapi serius oleh pemerintah, dengan melakukan intervensi untuk memberikan dukungan melalui pembinaan dan pendidikan keluarga, terlebih di daerah-daerah yang rawan kekerasan anak.

“Membangun ketahanan keluarga dengan intervensi dari pemerintah. Pemerintah kan bisa punya peta, jadi misalnya kalau ada kasus kekerasan muncul, misalnya kalau Jawa Timur, Sampang, Situbondo, itu kan petanya sudha jelas. Pemerintah Provinsi mengintervensi pemerintah Situbondo, mengintervensi pemerintah Sampang untuk dia masuk kepada keluarga-keluarga, bikin program kegiatan yang dibiayai APBD untuk penguatan dan ketahanan keluarga, sosialisasi tentang pendidikan keorangtuaan, parenting education yang seperti apa itu kan semestinya dibangun, dikasi anggaran untuk kemudian berkegiatan untuk menciptakan kota layak anaknya itu yang benar,” jabar Edward.

Maraknya game online kekerasan yang dengan mudah diunduh melalui aplikasi telepon genggam, diwaspadai Agnes Rini selaku orang tua yang memiliki anak usia sekolah di Surabaya. Pemeriksaan isi telepon genggam yang dibawa anaknya harus rutin dilakukan untuk memastikan tidak ada konten negatif yang dikonsumi anak melalui peralatan teknologi.

“Saya harus kontrol apa yang didowonload anak saya, otomatis kita harus tahu apa yang dia lihat, game apa yang dia mainkan itu harus dikontrol juga, karena game-game sekarang itu sudah gak layaklah, kalau untuk anak-anak usia-usia umpamanya TK, SD, sampai SMP, gak layaklah game-game itu,” tandasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.