Kediri Antisipasi Ilegal Logging dan Bencana Alam

Petrus - 15 February 2017
Kayu milik Perhutani di penampungan kayu sementara di Trowulan, Mojokerto (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Kediri – Perhutani Provinsi Jawa Timur membuat program Warung Kayu, yang ditujukan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar hutan tanaman produksi yang dikelola oleh Perhutani. Hal ini bertujuan untuk mengurangi adanya aktivitas pencurian kayu, yang dilakukan oleh oknum masyarakat maupun aparatur di tingkat lokal.

Kadivre Perhutani Provinsi Jawa Timur, Andi Purwadi mengatakan, program Warung Kayu berupa pemberian modal kepada masyarakat yang menjadi pengrajin kayu untuk membuka usaha di bidang pengolahan kayu di desanya. Perhutani juga akan memberikan barang berupa kayu dengan kualitas baik, agar dapat dijual kepada masyarakat sekitar dengan harga yang lebih rendah dibandingkan dengan di pasaran.

“Kita memberi alokasi 10 persen untuk Warung Kayu, hingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pengrajin kayu, tanpa harus mencuri. Kita siapkan itu dengan harga lebih murah dari dipasaran,” kata Andi Purwadi.

Catatan Perhutani menyebutkan kerugian negara akibat perambahan hutan dan penebangan kayu secara ilegal mengakibatkan negara rugi hingga Rp. 12 Milyar rupiah, selama kurun waktu satu tahun terakhir.

“Keruskan Hutan di Jawa Timur memang lebih banyak didominasi pencurian kayu atau ilegal logging, dan juga perambahan hutan.” ujar Andi.

Selama ini pelaku pencurian kayu dilakukan secara personal maupun melibatkan oknum serta pemilik modal besar sebagai penadahnya. Kebanyakan praktek ilegal logging terjadi di wilayah perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Diharapkan dengan adanya program pemberian bantuan Warung Kayu, kepada masyarakat yang tinggal disekitar kawasan hutan, dapat dimanfaatkan para pengrajin kayu untuk menggali potensi yang dimilikinya.

“Selain itu juga mencegah masyarakat melakukan pelanggaran hukum dengan mencuri atau menebang kayu di hutan secara ilegal,” lanjutnya.

Perhutani juga menerapkan metode menanam phon jarak melebar atau pola plong-plongan. Tujuannya agar masyarakat dapat memanfaatkan lahan yang ada untuk tumpang sari, atau menanami tanaman untuk kebutuhan pangan sehari-hari.

Kondisi hutan di Kediri kata Andi, sejauh ini masih cukup baik dengan terus melakukan upaya rehabilitasi hutan lindung yang dimiliki. Sementara untuk hutan yang mengalami kerusakan di Jawa Timur terdapat di wilayah Lumajang, akibat perambahan hutan atau ilegal logging.

Penanaman Bambu di Kaki Gunung Wilis dan Kelud

Sementara itu, pasca banjir bandang yang melanda tiga desa di lerang Gunung Wilis beberapa waktu lalu, terutama di Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, masyarakat bersama perusahaan melakukan gerakan penghijauan atau penanaman pohon.

Gerakan penghijauan ini diwujudkan dalam bentuk penanaman bibit pohon bambu sebanyak 90 ribu batang bambu petung. Dipilihnya pohon bambu untuk ditanam karena jenis tanaman ini memiliki kekuatan serapan air yang cukup banyak, jika dibandingkan dengan tanaman pohon lainya.

Disamping itu, pohon bambu juga merupakan salah satu tumbuhan multi guna, sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Selain di kaki Gunung Wilis, penanaman juga dilakukan di lereng Gunung Kelud, tepatnya diwilayah Perum Perhutani KPH Kediri Divisi Regional Jawa Timur, dengan luasan lahan yang dihijaukan sekitar 500 hektar.

“Tujuan Program konservasi lingkungan ini dimaksudkan untuk mengurangi jumlah luasan area lahan kritis dalam hutan. Dengan ditanami pohon bambu, diharapkan bisa mencegah terjadinya bencana alam seperti tanah longsor dan banjir,” terang Bupati Kediri dr Haryanti Sutrisno.(fl/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.