Kapolri Ajak Semua Elemen Masyarakat Lawan Terorisme

Petrus - 2 June 2018
Kapolri dan Panglima TNI melakukan Safari Ramadhan dalam rangka upaya meningkatkan keamanan dengan melibatkan masyarakat (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyebut aksi teror yang terjadi pada pertengahan Mei 2018 di Surabaya, disebabkan oleh penanaman dan pemahaman ideologi yang salah, yang diberikan dalam kurun waktu yang lama kepada orang yang direkrut. Hal ini disampaikan Tito Karnavian, saat berada di Surabaya beberapa waktu lalu.

“Pelaku teror ini bukan memahami ideologi radikal yang sehari dua hari, seminggu, lalu langsung melakukan aksi, bukan. Tapi proses ideologi ini berjalan berbulan-bulan, dan bertahun-tahun,” kata Tito.

Polri berupaya melakukan langkah antisipasi dan pencegahan, agar peristiwa serupa tidak terulang kembali. Tujuannya agar orang-orang yang terpapar paham radikalisme dapat kembali sadar, dan kembali pada ideologi yang benar. Maka diperlukan kerja sama antara semua pihak, baik pemerintah, Polisi, TNI, tokoh agama dan masyarakat, serta berbagai lapisan masyarakat.

“Kalau soal menangkap teroris, itu tugas kita sebagai polisi dan TNI. Tapi soal membendung orang supaya tidak terpengaruh idelogi radikal, kami tidak memiliki kemampuan itu. Sebab, kami tidak dilatih memahami ideologi dan ayat-ayat secara mendalam. Jadi kita perlu langkah sistematis dengan melibatkan semua pihak” lanjutnya.

Tito mengakui, bahwa untuk membendung idelogi radikal di masa sekarang sangat sulit, karena teroris juga menggunakan sosial media untuk menyebarkan berbagai informasi, maupun melakukan koordinasi, serangan, mempelajari target, merakit bom, hingga menyebarkan ajaran radikal kepada masyarakat.

“Jadi kami mohon kepada kepala daerah untuk mengumpulkan semua stakeholder terkait untuk berembug dan menemukan cara menangani ideologi ini. Kita juga telah kerahkan relawan-relawan dan para pasukan cyber, untuk membendung tersebarnya info radikalisasi lewat dunia maya,” ujar Tito.

Kapolri juga mendorong pengaktifan kembali FKUB, tiga pilar, yang bersama masyarakat melakukan deteksi dini penyebaran paham radikalisme.

“Ini momentum untuk membangun kembali kekuatan mulai dari tingkat terbawah. Jika dilakukan siskamling, maka RT dan RW kuat dan waspada. Tentunya, kasus terorisme keluarga seperti Dita Oepriyanto tidak akan terjadi lagi,” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.