Job Cyrcle, Aplikasi Buatan Pelajar Ponorogo Memudahkan Mencari Pekerjaan

Petrus - 20 February 2018
Aplikasi mencari pekerjaan karya siswa SMA di Ponorogo memenangkan Juara 1 Nasional, lomba Pemikiran Kreativitas Masyarakat (foto : Superradio/Gayuh Satria)

SR, Ponorogo – Prihatin dengan masih tingginya angka pengangguran di Indonesia, empat pelajar SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo, membuat sebuah aplikasi yang memudahkan para pencari kerja untuk mencari pekerjaan yang diinginkan.

Aplikasi yang dibuat ini berhasil menyabet Juara 1 Nasional, pada lomba Pemikiran Kreativitas Masyarakat yang di adakan oleh Universitas Jenderal Soedirman, di Solo, Jawa Tengah.

Empat pelajar berprestasi ini adalah M. Furqan Hidayatullah, Rifqi Fathin Al Hamid, M. Akif Tholibul Huda, dan Dicky Bagus Sanjaya. Aplikasi yang mereka sebut sebagai ‘Job Cyrcle’ ini berhasil menyisihkan 72 tim yang ikut dilombakan menuju final.

“Aplikasi ini diperuntukan untuk penduduk usia kerja agar memudahkan dalam mencari lapangan pekerjaan,” kata Furqan, selasa (20/2/2017).

Ia menjelaskan, aplikasi ini nantinya bisa digunakan di semua jenis smartphone yang tersambung dengan koneksi internet. Bahkan untuk setiap pekerjaan yang disediakan, telah dipilah-pilah oleh aplikasi ini.

“Jika ada pekerjaan di sektor perkebunan, perikanan, perdagangan, dan perkantoran, maka aplikasi ini akan memilihkan dan mempermudah si pencari kerja dalam memilih pekerjaan yang cocok dibidangnya,” jelasnya.

Menurutnya, ide awal dari pembuatan aplikasi ini adalah demografi Indonesia yang luas serta jumlah penduduk yang banyak. Selain itu, ide ini juga didasari banyaknya aplikasi smartphone yang booming dalam hal jasa, seperti aplikasi ojek online.

“Apalagi hampir semua penduduk usia produktif menggunakan smartphone dan terhubung dengan internet,” imbuhnya.

Siswa kelas XII IPS 1 ini sempat merasa down saat mengikuti lomba, karena banyaknya peserta dari kalangan mahasiswa yang mengikuti lomba ini. Pasalnya, ketika mempresentasikan karyanya tidak ada batasan kelas, baru ketika masuk final mengetahui jika memang kelasnya dibedakan.

“Begitu lomba dimulai kami sudah tidak yakin bisa memenangkan lombanya, karena ada banyak saingan dari mahasiswa, apalagi SMA yang memang langganan juara lomba ini juga ikut kembali, dan satu kabupaten dengan kami,” tuturnya.

Sementara itu, guru pembimbing KIR, Mochamad Sachrur Rohman menjelaskan, dalam pengembangan aplikasi ini murni adalah ide dari ke-empat siswanya. Sekolah sebagai tempat belajar hanya memfasilitasi dan menjembatani untuk mengembangkan ide-ide kreatif siswanya.

“Saya berharap dengan aplikasi ini pemerintah bisa mengembangkannya untuk menciptakan lapangan pekerjaan, dan karena ini masih prototype semoga ada ahli yang bisa memyempurnakannya,” pungkasnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.