Jejak Peninggalan Prabu Airlangga

Yovie Wicaksono - 1 July 2018
Candi Belahan atau Candi Sumber Tetek Merupakan Peninggalan Kerajaan Kahuripan di Era Prabu Airlangga. Foto : (Super Radio/Fena Olyvia)

SR, Pasuruan – Jawa Timur merupakan daerah yang memiliki beragam peninggalan bersejarah dari berbagai era kerajaan. Seperti halnya Candi Belahan yang ada di Dusun Belahan Jowo, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Candi yang terletak di sisi timur Gunung Penanggungan ini, merupakan peninggalan kerajaan Kahuripan pada masa Prabu Airlangga.

Candi bercorak Hindu ini, dikenal sebagai petirtaan selir Prabu Airlangga dan ditemukan pada tahun 1049 M atau pada abad ke 11. Selain sebagai petirtaan, tempat ini juga biasa digunakan Prabu Airlangga untuk bertapa.

Di Candi Belahan, terdapat sebuah kolam dengan air yang mengalir dari payudara (maaf) patung Dewi Sri dan Dewi Laksmi yang merupakan simbol kesucian, kedamaian, dan kemakmuran. Aliran air inilah yang kemudian membuat masyarakat menyebutnya sebagai Candi  Sumber Tetek. Dalam bahasa Jawa, tetek dikenal untuk penyebutan payudara.

“Selain itu, terdapat juga patung Candrasengkala (buto). Dulu, ditengah-tengah patung Dewi Sri dan Dewi Laksmi terdapat arca perwujudan Airlangga sebagai Dewa  Wishnu, yang kini sudah dipindahkan di museum Trowulan,” ujar Astono, juru pelihara Candi Belahan kepada Super Radio, Minggu (1/7/2018).

Ia menambahkan, Candi Belahan yang dianggap sebagai tempat suci, tidak memperbolehkan perempuan yang sedang berhalangan mandi atau menceburkan diri ke dalam kolam. Jika melanggar, hal-hal buruk yang tidak diinginkan akan terjadi,  seperti kesurupan.

“Untuk itulah, ada tulisan Perempuan yang berhalangan dilarang mandi di sudut kanan kolam. Ini sebagai penanda bagi pengunjung,” kata Astono.

Salah Seorang Pengunjung Melakukan Ritual di Candi Belahan. Foto : (Super Radio/Fena Olyvia)

 

Pria yang sudah 25 tahun menjadi juru pelihara ini menjelaskan, selain dikunjungi masyarakat yang ingin berwisata, Candi Belahan juga banyak didatangi para pelaku ritual. Mereka memiliki beragam tujuan seperti membuka aura, penyucian diri, bahkan untuk penyembuhan.

Seperti halnya, Sudarsono, salah satu pengunjung dari kota Sidoarjo. Ia mengatakan,  dalam satu minggu bisa berkunjung hingga dua kali ke Candi Belahan dan memilih waktu  ritual pada malam hari. Ritual malam biasa dilakukannya mulai 00.15 WIB selama 15 – 20 menit. Saat ritual, Sudarsono juga menyertakan dupa dan bunga.

Biasanya, ia melakukan ritual penyucian diri dengan air suci (tirto nirmoyo) yang mengalir dari payudara patung  Dewi Sri dan Dewi Laksmi. Bahkan saat kondisi hati tidak tidak tenang,  Sudarsono bisa datang setiap hari.

“Kalau sering ritual, sering introspeksi diri, dan mensucikan diri, Insya Allah akan selamat. Karena ingat karma, tidak bertindak semaunya. Menjalani hidup juga lebih ikhlas, sabar, dan juga tenang. Kalau menjalani hidup tidak dengan ikhlas, itu akan jadi beban, dikit-dikit dipikir jadi stress, terus sakit,” ujar Sudarsono.

Sementara itu, Astono mengatakan, dalam satu bulan jumlah pengunjung Candi Belahan bisa mencapai 700-800 orang.  Candi Belahan dibuka selama 24 jam dan pengunjung lebih banyak berdatangan pada malam Jumat legi dan malam Jumat kliwon, untuk melakukan ritual, pelepasan hewan, dan juga buang koin.

Pengunjung yang datang ke Candi Belahan tidak hanya berasal dari daerah sekitar saja, melainkan ada yang dari Bali, Jawa Tengah hingga Jawa Barat.  (fos/red)

 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.