Jejak Ken Dedes di Petirtaan Watugede

Yovie Wicaksono - 2 July 2018
Petirtaan Watugede di Singosari, Kabupaten Malang. Foto : (Super Radio/ Fena Olyvia)

SR, Malang Malang, bukan hanya terkenal sebagai kota wisata, namun juga menyimpan banyak sekali peninggalan sejarah nusantara. Salah satunya adalah petirtaan Watugede yang berada di sebelah timur Stasiun Singosari, tepatnya di Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Petirtaan Watugede ditemukan tahun 1925, dan selanjutnya diadakan penggalian di tahun 1931 oleh Dinas Purbakala  Hindia Belanda. Karena situs ini ditemukan di Desa Watugede, maka petirtaan ini dinamai Petirtaan Watugede.

Petirtaan Watugede terbagi menjadi dua area, dimana dikolam ukuran  besar digunakan untuk membuka aura dan mensucikan diri, lalu kolam kecil  dibawah pohon Lo merupakan tempat untuk penyatuan diri dan menyambung rasa dengan para leluhur dengan cara berdo’a. Dikolam kecil tersebut juga terdapat sumur kecil yang sengaja dibuat agar mata airnya tidak tercampur dengan air lain yang berada disekitar kolam, karena banyak yang mempercayai bahwa air tersebut dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Air dari petirtaan Watugede ini berasal dari sungai bawah tanah yang mata airnya berasal dari 3 gunung, yaitu Gunung Arjuno, Gunung Semeru, dan Gunung Bromo. Sehingga membentuk sungai bawah tanah yang besar sampai mengalir ke laut selatan.

“Petirtaan Watugede yang bercorak Hindu-Budha ini memiliki fungsi untuk bagaimana kita bisa mengerti dan bisa menyatu dengan alam, mengingat leluhur kita dan berdo’a . Karena kita hidup dan ada di dunia ini juga karena adanya  leluhur dan alam ” ujar Agus , juru pelihara Petirtaan Watugede kepada Super Radio, Senin (2/7/2018).

Menurut sejarah yang terdapat pada Kitab Negarakartagama, Petirtaan Watugede merupakan Taman Boboji, tempat pemandian atau petirtaan Putri Ken Dedes, istri Tunggul Ametung penguasa Tumapel.

Pada saat Ken Dedes mensucikan diri, dia mengeluarkan sinar berwarna biru, yang tanpa sengaja Ken Arok melihatnya. Lalu Ken Arok berlari dan mengatakan pada gurunya, yaitu Empu Lohgawe. Empu Lohgawe pun mengatakan bahwa seorang putri yang mempunyai ciri seperti itu, disebut Putri Anarendra Anariswari, perempuan utama yang akan melahirkan raja-raja di nusantara. Dari situlah Ken Arok bertekad membunuh Tunggul Ametung dan merebut istrinya, Ken Dedes.

Setelah berhasil membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok memperistri Ken Dedes yang sedang hamil 5 bulan, anak dari Tunggul Ametung. Lalu  Ken Arok menjadi Akuwuh Tumapel dan mengganti nama negaranya menjadi Singosari (Singhasari) dengan gelar abiseka Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Salah Satu Sudut Petirtaan Watugede di Singosari, Kabupaten Malang. Foto : (Super Radio/ Fena Olyvia)

 

Dari cerita tersebut, dapat dikatakan bahwa disinilah tempat untuk bersuci, yang identik dengan air. Karena kesucian itulah, para perempuan yang sedang berhalangan tidak boleh mandi atau menceburkan diri ke dalam kolam. Jika melanggar, hal-hal buruk yang tidak diinginkan akan terjadi, seperti kesurupan.

Petirtaan Watugede juga merupakan saksi bisu tradisi leluhur, dimana setiap anak perempuan wajib disucikan dari semua kalangan tanpa terkecuali, artinya seorang putri yang menginjak usia 7 tahun tidak boleh keluar rumah (dipingit), lalu mereka diberikan pengertian tentang bagaimana menyatu dengan alam, dan menyambung roso dengan para leluhurnya  tentang kehidupan, baik masalah  jiwa atau batin, dan kepribadian dalam menjalani  kehidupan keseharian, dimana para putri memiliki aturan-aturan atau lelagu, tidak boleh berbuat semaunya. Bagaimana cara bertutur, dan berperilaku, semua ada aturannya yang sampai saat ini masih dijalani para putri keraton

Dulu petirtaan Watugede ini disetiap sisinya dipenuhi arca sebagai hiasan kolam, dimana air jernih yang berasal dari mata air setempat muncul melalui mulut arca. Tapi sayangnya beberapa arca tersebut sudah hilang dan sisa arca yang ada diamankan di museum Trowulan Mojokerto.

Setiap malam sura di petirtaan Watugede diadakan selamatan bersama, doa bersama untuk keselamatan Bangsa Indonesia, masyarakat sekitar, dan keselamatan diri sendiri menggunakan tumpeng, lalu mandi, dan mensucikan diri.

Agus mengatakan, dalam satu bulan jumlah pengunjung Petirtaan Watugede mencapai 300an orang. Di buka mulai dari jam 08.00 – 16.00 WIB, pengunjung datang dari berbagai daerah namun lebih banyak dari Bali.

“Banyak yang bilang kok pengunjungnya sepi? Dan saya juga sadar, sepi memang. Dan harus sepi, karena sesuai dengan namanya alam, tempat untuk bersuci. Kalau ramai, nanti tidak suci lagi, tidak sakral. Orang yang datang kesini pun juga hanya orang-orang tertentu, orang yang mau menggali lebih tentang jati diri, mengerti dalam tentang alam,” pungkasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.