ITS Gandeng LAPAN, Kembangkan Satelit untuk Keamanan Laut

Petrus - 3 May 2018
Delegasi ITS dan LAPAN seusai Penandatanganan MoU dan Butir Kerja Sama di depan Kantor LAPAN di Bogor (foto : Humas ITS)

SR, Surabaya – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bekerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), mengembangkan pemanfaatan data satelit. ITS dan LAPAN akan mengembangkan satelit yang dapat dimanfaatkan untuk pemantauan lingkungan dan kemaritiman, khususnya dalam pengembangan Automatic Identification System (AIS).

Kerja sama antara ITS dan LAPAN, menurut Direktur Inovasi, Kerja sama, dan Kealumnian ITS, Kriyo Sambodho, sangat menguntungkan ITS khususnya Pusat Unggulan Iptek Keselamatan Kapal (PUI KEKAL). Kedua belah pihak dapat dengan mudah memanfaatkan data AIS milik LAPAN, untuk mendeteksi keberadaan kapal besar terhadap pipa bawah laut.

Setiap kapal besar yang memiliki ukuran lebih dari 300 gross tonnage (GT) wajib dilengkapi oleh data AIS, untuk mempermudah pemilik kapal dalam memantau lokasi kapalnya. Namun, kekurangan yang ada pada data AIS ini, belum dilengkapi dengan data lokasi pipa bawah laut. Padahal, data itu amat penting karena dapat mendeteksi keberadaan pipa bawah laut, terutama saat berdekatan dengan kapal yang melintas agar tidak membahayakan.

“Ketika kapal berhenti di dekat pipa bawah laut, ada indikasi untuk melempar jangkar. Tindakan ini akan mempengaruhi kebocoran pipa yang bisa menimbulkan ledakan dan kebakaran, seperti yang terjadi di Teluk Balikpapan kemarin itu,” ujarnya.

Menyikapi peristiwa itu, PUI KEKAL ITS mencoba membuat inovasi baru, melalui kerja sama kedua belah pihak.

“Kalau data AIS ITS ini berhasil dikembangkan, maka akan lebih mudah bagi kapal untuk menghindari pipa laut, dan mengurangi risiko kecelakaan dan pencemaran lingkungan semacam itu,” lanjutnya.

Selain itu, kondisi pemanfaatan data untuk lokasi kapal dan pipa bawah laut ini sifatnya masih terbatas hanya di daerah Singapura, Selat Madura, Jakarta, Sulawesi dan Kalimantan. Sementara bagi daerah-daerah yang lain, masih memanfaatkan data gelombang radio.

“Harapannya dengan adanya data satelit ini semua bisa ter-cover semuanya,” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.