Isyanto, Perajin Wayang Lapis Emas Asal Ponorogo

Petrus - 27 October 2017
Isyanto menunjukkan wayang berlapis emas karyanya (foto : Superradio/Gayuh Satria)

SR, Ponorogo – Isyanto warga Jalan Rumpuk, Desa Ronowijayan, Kecamatan Babadan, sudah 34 tahun berprofesi sebagai perajin wayang lapis emas. Tak disangka, hasil karyanya menjadi buruan kolektor wayang.

Bahkan untuk mendapatkan wayang hasil karya Isyanto, butuh waktu empat bulan lamanya. Pasalnya, pengerjaan wayang tidak boleh sembarangan dan harus berkualitas. Tidak hanya dilapisi lembaran emas, tapi juga pemilihan kulit kerbau yang berkualitas, tanduk kerbau bule yang bagus, dan detail pemilihan warna dan postur wayang.

“Karena ini untuk kolektor, karya saya harus bagus dan berkualitas. Harganya tidak murah,” terangnya kepada superradio.id, Kamis (26/10/2017).

Selain itu, setiap detail ukiran wayang dan pemilihan warna, Isyanto rela menyewa pekerja dari Solo. Tak heran harga untuk satu karakter dari tokoh wayang buatan Isyanto dibanderol mulai Rp. 5 juta hingga puluhan juta.

“Satu wayang minimal harganya Rp. 5 juta, dan kalau diatas Rp. 30 juta dapat sertifikat dari saya,” ujarnya.

Bahkan kolektor wayang hasil karya Isyanto tidak hanya datang dari dalam negeri saja, tapi juga dari negara lain, seperti Jerman, Belanda dan Jepang.

“Mereka beli dari buyer, banyak pesanan yang datang,” tukasnya.

Namun sayangnya, ada yang mengganjal dalam pikiran Isyanto. Saat ini perajin wayang khas Solo-Klaten di Ponorogo hanya ada dirinya. Ia mengaku khawatir tidak adanya generasi penerus.

“Dulu ada teman saya sesama perajin wayang, tapi sekarang tinggal saya karena beliau meninggal,” tandasnya.

Menurutnya, memang sangat sulit mencari regenerasi perajin wayang. Ia sendiri mengalaminya, selama enam tahun awal karirnya sebagai perajin wayang, hasil karyanya tidak diakui oleh orang lain.

“Puluhan tahun, baru karya saya diakui,” ucapnya.

Meski begitu ia mengaku bangga, sekarang mulai bermunculan bakat-bakat dalang di Ponorogo. Ini bisa jadi jalan bagi generasi muda untuk mencintai kebudayaan sendiri.

“Jangan hanya kolektor turunan China saja yang suka dengan wayang karena belajar filosofi, tapi masyarakat Indonesia sendiri kurang menghargai wayang, padahal wayang bisa jadi investasi,” pungkasnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.