Isu Penanggulangan Sampah Plastik di Lautan Jadi Bahasan Indonesia Dalam KTT ASEAN

Yovie Wicaksono - 17 November 2018

SR, Singapura – Presiden Joko Widodo mengajak negara-negara peserta KTT ASEAN untuk meningkatkan koordinasi dan upaya bersama, dalam menanggulangi sampah plastik di lautan.

“Laut dan samudra adalah masa depan kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus meningkatkan kerja sama di bidang maritim. Salah satu isu yang menjadi tantangan bagi semua negara antara lain marine plastic debris,” kata Presiden Joko Widodo, saat memberikan pernyataan dalam lunch retreat KTT Asia Timur, di Suntec Convention Centre, Singapura, Kamis (15/11/2018).

Indonesia sebelumnya telah mengusulkan pentingnya kerja sama sejumlah pihak dalam mengatasi sampah plastik laut. Indonesia telah mengajukan konsep Pernyataan Pemimpin Negara Asia Timur, tentang Pemberantasan Sampah Plastik di Laut (EAS Leaders’ Statement on Combating Marine Plastic Debris), sebagai salah satu dokumen hasil dari KTT ke-13 Asia Timur.

“Indonesia menyampaikan penghargaan kepada EAS yang telah menyetujui usulan Indonesia, yakni EAS Leaders’ Statement on Combating Marine Plastic Debris,” tuturnya.

Indonesia akan berupaya menugaskan badan terkait di ASEAN untuk mengimplementasikan usulan pernyataan itu ke dalam rencana aksi regional penanganan sampah plastik di kawasan.

Ketika memberikan sambutan pada 13th East Asia Summit (EAS) atau KTT ke-13 Asia Timur sesi plenary, Presiden Joko Widodo mempresentasikan konsep Indo-Pasifik.

“Pada pertemuan EAS tahun 2014. Saya menyampaikan visi ‘Poros Maritim Dunia’ Indonesia. Pada saat itu, saya telah menekankan arti penting peningkatan kerja sama maritim, tidak saja di Samudera Pasifik, namun juga di Samudera Hindia,” ucap Presiden Jokowi.

Presiden menjelaskan bahwa dua samudera itu, Samudera Pasifik dan Samudera Hindia sebagai Single Geo-Strategic Theatre.

“Kita perlu menjaga agar Samudera Hindia-Samudera Pasifik tetap damai dan aman. Tidak dijadikan ajang perebutan sumber daya alam, pertikaian wilayah dan supremasi maritim, dan sebagai pusat jalur perdagangan dunia,” lanjut Presiden Jokowi.

Hal ini sangat krusial, ucap Presiden, mengingat tantangan di dua samudera semakin kompleks.

“Secara konsisten, Indonesia terus mendorong kerja sama terkait isu-isu kemaritiman sebagai bentuk terjemahan visi maritim Indonesia,” kata Jokowi.

Presiden menjelaskan bahwa pada tahun 2017, Indonesia menjadi tuan rumah KTT IORA, KTT pertama IORA dan menghasilkan ‘Jakarta Declaration and Plan of Action’.

Lebih lanjut Presiden mengatakan, pada 29-30 Oktober 2018, Indonesia menjadi tuan rumah Pertemuan ke-5 Our Ocean Conference yang menghasilkan komitmen multistakeholders mengenai Ocean.

“Indonesia juga menjadi tuan rumah Indonesia-Africa Maritime Dialogue, 29 Oktober 2018 yang menekankan kerja sama pada dua hal, yaitu sustainable fisheries dan maritime security, “ kata Presiden Jokowi.

Selain itu, Presiden Jokowi mengingatkan bahwa kerja sama maritim juga terus dikembangkan bersama ASEAN. Saat ini, Indonesia bersama ASEAN sedang mengembangkan satu konsep kerja sama ‘Indo-Pasifik’.

“Indonesia juga melakukan konsultasi dengan negara-negara mitra. Saya ingin menyampaikan apresiasi atas dukungan para mitra ASEAN yang menekankan pada sentralitas ASEAN, termasuk dalam pengembangan konsep Indo Pasifik,” ujarnya.

Setelah melakukan konsultasi yang cukup lama, saat ini di EAS didiskusikan secara lebih terbuka mengenai kerja sama ‘Indo-Pasifik’.

Dalam pandangan Presiden Jokowi, pengembangan kerja sama ‘Indo-Pasifik’ penting menekankan pada beberapa prinsip, antara lain, kerja sama.

“Saya ulangi kerja sama, bukan rivalitas, inklusifitas, tranparansi dan keterbukaan,” ucap Presiden Jokowi.

Prinsip lainnya adalah penghormatan terhadap hukum internasional.

“Pengembangan kerja sama ‘Indo-Pasifik’ ini tidak memerlukan pembentukan sebuah institusi baru,” kata Presiden Jokowi.

Pengembangan kerja sama “’Indo-Pasifik’ dilakukan melalui penebalan kerja sama antara negara peserta EAS, dan ke depan, penting untuk meningkatkan kerja sama dengan mitra lain di Samudera Hindia.

Sementara itu, kerja sama Indo-Pasifik dapat difokuskan pada tiga bidang yaitu kerja sama maritim, termasuk dalam menanggulangi kejahatan di laut, kerja sama konektivitas untuk memacu pertumbuhan ekonomi, dan kerja sama mewujudkan pembangunan berkelanjutan untuk pencapaian target SDGs secara inklusif.

“Itulah pemikiran mengenai prinsip dasar dan fokus kerja sama Indo-Pasifik,” ujar Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi memahami bahwa pembahasan konsep kerja sama semacam ini selalu memerlukan waktu, dan tidak kalah pentingnya memerlukan trust satu sama lain.

“Dengan trust yang diberikan kepada ASEAN sejauh ini, saya yakin kita akan dapat bekerjasama, mengembangkan konsep Indo-Pasifik yang akan menguntungkan semua pihak,” kata Presiden Jokowi.

Mengenai ways forward, Presiden Jokowi mengusulkan agar proses konsultasi terus dijalankan oleh ASEAN dengan negara mitra di EAS.

Presiden mengatakan, pentingnya mulai dijajaki kerja sama ‘low hanging fruit‘ yang dapat memperkuat confidence building measures, yang dapat memperkuat saling percaya diantara kita, misalnya kerja sama dalam pengembangan rezim perikanan yang berkelanjutan (Sustainable Fisheries Regime) dan memerangi marine plastic debris.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.