Investasi SDM, Fokus APBN 2019

Petrus - 10 April 2018
Presiden Joko Widodo bersama para menteri melaksanakan rapat terbatas, tentang kesediaan anggaran dan pagu indikatif, serta prioritas nasional tahun 2019, di Istana Negara, Jakarta (foto : Superradio/Nina Suartika)

SR, Jakarta – Presiden Joko Widodo berpesan kepada seluruh jajarannya di Kabinet Kerja, untuk lebih fokus dan memprioritaskan anggaran APBN untuk hal-hal yang bersifat strategis. Terlebih, APBN hanya memiliki kontribusi sekitar 15 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Oleh karena itu, alokasi anggaran APBN harus betul-betul fokus dan diprioritaskan untuk hal-hal yang strategis,” kata Presiden Joko Widodo, di Jakarta, Selasa (10/4/2018).

Selama 3,5 tahun ini, pemerintah memfokuskan pada pembangunan infrastruktur, bahkan alokasi anggaran untuk infrastruktur meningkat secara signifikan, dari sekitar Rp. 170 Triliun di akhir tahun 2014, menjadi sekitar Rp. 370 Triliun di tahun 2017.

Peningkatan anggaran infrastruktur selama 3,5 tahun ini dapat dirasakan, melalui masifnya pembangunan di bidang infrakstruktur.

“Baik berupa jalan, pelabuhan, jalan tol, jalur kereta api, airport, dan lainnya,” ujar Jokowi.

Setelah pembangunan infrastruktur yang menjadi tahapan besar pertama, kini pemerintah bersiap memasuki tahapan besar kedua, yaitu investasi di bidang sumber daya manusia (SDM).

Terkait hal itu, Jokowi meminta agar program-program yang berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia mulai disiapkan, didukung, dan ditopang dengan baik.

“Saya tidak ingin nanti hanya ada tambahan anggaran tetapi tidak kelihatan masif, tidak kelihatan ada perubahan pergeserannya. Oleh sebab itu, setiap kementerian harus betul-betul menyusun programnya,” tandas Jokowi.

Selain itu, Presiden juga mengingatkan kembali agar penggunaan anggaran selalu fokus dan terasa hasilnya. Sebagai contoh, anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk menggelar pameran atau promosi, yang ada di 17 kementerian. Jika dikumpulkan dalam satu kementerian, Presiden meyakini akan menghasilkan promosi yang lebih bermanfaat.

“Kalau kecil-kecil, di ecer-ecer di 17 kementerian, anggarannya juga kecil-kecil. Mau mengadakan pameran yang gede tidak bisa, akhirnya pamerannya yang kecil-kecil. Kita ikut di Dubai, di Koln, di Shanghai, di Amerika, pameran hanya satu-dua stan kemudian di dekat toilet untuk apa? Malah menurunkan brand negara kita,” cetus Jokowi.

Sama halnya dengan anggaran yang dialokasikan untuk penelitian dan riset. Kepala Negara menyatakan hingga kini belum merasakan manfaat dari penelitian, yang mendapatkan alokasi anggaran hingga Rp. 24,9 triliun itu.

“Apa hasilnya 24,9 triliun? Saya mau tanya,” kata Jokowi.

Jokowi juga menekankan kunci meningkatkan pertumbuhan ekonomi berada pada ekspor dan investasi. Oleh karena itu, setiap kementerian dan lembaga yang terkait ekspor dan investasi, harus fokus memperbaiki iklim usaha dan daya saing.

“Saya nanti mau minta laporan setiap kementerian sudah berapa regulasi, peraturan, izin-izin yang sudah dipotong,” katanya.

Presiden juga menyampaikan bahwa koordinasi dan konsolidasi antar kementerian atau lembaga harus terus dilakukan.

“Hilangkan ego sektoral, apalagi ego kementerian, ego kepala lembaga. Kebijakan atau program yang bersifat lintas lembaga atau kementerian, maupun terkait daerah harus dibicarakan bersama, dikoordinasikan bersama, sehingga keluarnya dalam bentuk kebijakan yang sudah solid dan berguna untuk kemajuan bangsa dan negara,” pungkas Jokowi.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.