Inovator Harus Bangun Kemitraan Dengan Sektor Swasta

Petrus - 20 October 2017
Menristekdikti M. Nasir didampingi Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf meninjau stand pameran inovasi berbasis teknologi I3E di Grandcity Surabaya (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf meminta para inovator berbasis teknologi dapat  membangun kemitraan dengan dunia bisnis, agar dapat berkembang dan menjadi lebih kuat. Hal ini disampaikan pada pembukaan pameran inovasi berbasis teknologi I3E (Inovator Inovasi Indonesia Expo), di Grandcity Surabaya, Kamis (19/10/ 2017)

Saifullah Yusuf mengatakan, keterlibatan pihak swasta sangat penting dan diperlukan, karena pengembangan hasil riset memerlukan dana yang cukup besar. Selain itu, pihak swasta dapat menjadi jembatan agar hasil riset dapat diterapkan dan langsung dirasakan oleh masyarakat.

Wakil Gubernur mencontohkan pentingnya inovasi dan penggunaan teknologi dalam kehidupan masyarakat, seperti penerapan teknologi dan inovasi pada sektor pertanian, peternakan, pangan dan produksi lainnya.

“Semua itu perlu teknologi, dan inovasi yang relevan dengan situasi dan kondisi saat ini,” kata Saifullah Yusuf.

Pameran I3E digelar sejak 2015 atas prakarsa Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti dan selalu diadakan di Jakarta, sedangkan tahun ini adalah penyelenggaraan yang pertama di Kota Surabaya. Dipilihnya Surabaya sebagai lokasi pamera I3E karena posisi Jawa Timur yang berada di peringkat teratas147 starup, sejajar dengan Jawa Barat.

“Hal itu karena inovasi-inovasi karya anak bangsa yang menggunakan bahan baku yang ada di sekitarnya. Bahan baku yang ada diberikan nilai tambah, yang akhirnya memperkuat perekonomian sehingga lebih mandiri. Ini harus didorong supaya kedepan perkembangan ekonominya berbasis pada teknologi. Calon starup masa depan kita yang akan menjadi pemenang dimasa yang akan datang,” harapnya.

Sementara itu, Menristekdikti Mohammad Nasir mengatakan, karya inovasi yang bertemu dengan dunia bisnis akan memberikan nilai tambah dan dapat menumbuhkan iklim yang kondusif bagi pengembangan inovasi di Tanah Air.

“Tanpa kolaborasi dengan dunia bisnis atau swasta, karya inovasi hanya akan dicatat di laboratorium atau kampus, tanpa memberi manfaat nyata bagi masyarakat maupun inovatornya,” kata Nasir.

Pameran yang berlangsung empat hari mulai 19 sampai 22 Oktober ini diikuti 611 peserta yang berasal dari seluruh Indonesia. Peserta terdiri dari delapan bidang fokus, yakni pangan, energi, transportasi, material maju, bahan baku, Hankam, TIK, Kesehatan Obat, yang merupakan binaan dari Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti tahun 2017.

Pada 2015 jumlah starup di Indonesia tercatat ada 52, kemudian meningkat menjadi 203 pada 2016. Tahun starup di Indonesia mampu melampaui target 450 menjadi 661 starup.

“Tahun depan ditargetkan 800 starup, dan 2019 diharapkan bisa mencapai seribu lebih starup,” ujarnya.

Selain pameran, juga digelar sejumlah seminar dan talk show, diantaranya mengenai branding, online marketing, paten dan hak kekayaan intelektual, standar mutu, serta strategi menembus pasar ritel modern.

“Harapan kami, setelah mengikuti expo ini, peserta mendapat bekal untuk membangun aspek bisnis dari inovasi yang dirintis. Ini penting agar ada insentif bagi masyarakat untuk terus mengembangkan inovasi,” harap Menristekdikti, M Nasir.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.