Inilah Saksi Perjuangan Dr. Soetomo

Yovie Wicaksono - 1 August 2018
Makam Dr. Soetomo Berada Satu Kompleks dengan Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Surabaya. Foto : (Super Radio/ Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Sebutan kota Pahlawan bagi Surabaya, tidaklah berlebihan. Pasalnya di ibu kota Jawa Timur ini, terdapat banyak saksi sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Salah satunya adalah Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Jalan Bubutan 85-87, Surabaya. Gedung ini menjadi saksi perjalanan para pemuda Indonesia pada masa perjuangan.

Di tempat ini dulu adalah pusat pergerakan nasional Partai Indonesia Raya (Parindra) dibawah pimpinan Dr. Soetomo. GNI juga menjadi tempat pembentukan Komisi Nasional Indonesia (KNI) dan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Provinsi Jawa Timur, serta pembentukan Pemuda Putri  Republik Indonesia (PPRI). GNI juga menjadi salah satu lokasi  pertempuran 10 November 1945 antara Arek-arek Suroboyo dan tentara Sekutu.

Komplek GNI terbagi tiga bagian. Bagian depan terdapat pendopo, yang dulunya digunakan untuk pertemuan, rapat umum, persidangan, dan juga dijadikan sebagai gedung kesenian. Di pendopo inilah, pengunjung akan disuguhi sejarah dan organisasi apa saja yang pernah didirikan Dr. Soetomo.

Di bagian tengah pendopo terdapat mesin stensil sebagai gambaran perkembangan teknologi yang pernah melengkapi sarana mesin cetak majalah Panjebar Semangat yang saat itu semua mesin cetak majalah milik Yayasan Panjebar Semangat dirampas oleh penguasa Jepang. Di sudut pendopo terdapat meja panjang beserta sepuluh kursi yang dulunya digunakan Dr. Soetomo rapat.

Bagian ke dua dari GNI adalah Museum Dr.Soetomo yang diresmikan oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini pada 29 November 2017. Museum ini  berisi tentang perjalanan hidup dan sosok dari Dr.Soetomo sendiri.

Mulai dari kisah masa kecilnya, perubahan nama aslinya dari Soebroto menjadi Soetomo, pernikahannya dengan istrinya, Everdina J. Broering yang merupakan juru rawat berkebangsaan Belanda, lalu rekam jejak dan juga karyanya ditampilkan dalam museum tersebut.

Museum Dr Soetomo di Jalan Bubutan Surabaya. Foto : (Super Radio/ Fena Olyvira)

Di lantai atas museum terdapat alat-alat kedokteran yang digunakan Dr.Soetomo selama bekerja di Rumah Sakit Simpang Surabaya. Desain tatanan alat-alat tersebut juga dibuat sama seperti desain ruangan praktik Dr.Soetomo.

Lalu ada juga beberapa mebel yang diambil dari rumah masa kecil Dr.Soetomo di Nganjuk yang diletakkan di bagian tengah lantai atas museum.

Bagian ketiga atau terakhir adalah makam dari Dr.Soetomo. Makam ini adalah amanah dari Dr.Soetomo dimana ia menginginkan makamnya bisa dikunjungi oleh banyak masyarakat dan  sebagai penanda terhadap gerakan Dr.Soetomo.

Dr.Soetomo meninggal pada 30 Mei 1938 atau saat berusia 49 tahun.

“Kompleks Museum Dr.Soetomo buka di hari Senin – Jumat pada 08.00-16.00 WIB,  sedangkan Sabtu dan Minggu mulai 07.00-15.00 WIB. Dalam satu bulan pengunjung mencapai 300-400 orang,” kata Agata, penjaga Museum Dr.Soetomo kepada Super Radio, Rabu (1/8/2018). (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.