Industri Pempek di Surabaya Terima Hibah IPAL dari ITS

Petrus - 16 January 2018
Ipung Fitri Purwanti (kiri) menyerahkan IPAL secara simbolis melalui Camat Rungkut (foto : Humas ITS)

SR, Surabaya – Pelaku industri tumah tangga di kawasan Medayu Utara menerima hibah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dari Departemen Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

IPAL ini nantinya akan difungsikan untuk mengolah air limbah dari industri makanan khas Palembang, yaitu Pempek, agar lebih ramah lingkungan. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh tim Laboratorium Remidiasi Lingkungan ITS, kepada pemilik rumah produksi pempek Tjek Entis, Senin (15/1/2018).

Laboratorium Remidiasi Lingkungan ITS berhasil membangun IPAL pada industri makanan Pempek milik Suparto, setelah pengajuan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) oleh tim yang diketuai Ipung Fitri Purwanti ini lolos terdanai pada tahun 2017.

”IPAL ini merupakan inisiatif dari tim Teknik Lingkungan ITS untuk melakukan pengabdian pada masyarakat,” kata Ipung Fitri.

Setiap minggunya, sekitar 150 kilogram ikan tengiri diproses menjadi makanan khas Palembang, Pempek, di rumah produksi milik Suparto. Dari pengolahan itu, tentu saja menghasilkan air limbah yang berbau dan berwarna keruh, yang itu dapat membahayakan lingkungan bila dibuang secara langsung.

“Sebelumnya, laboratorium kami melakukan analisa terhadap air limbah tersebut. Hasil analisa yang ada menunjukkan bahwa terdapat kadar zat organik, nitrogen, fosfor, minyak, lemak serta padatan terlarut yang tinggi, Ini dapat menyebabkan tumbuhnya eceng gondok di sungai secara berlebih,” terang Ipung.

Pengolahan air limbah papar Ipung, dimulai dari bak kontrol yang berfungsi mengatur volume limbah yang masuk. Bahan sisa itu kemudian melewati grease trap (bak penangkap lemak) untuk memisahkan minyak dan lemak.

“Proses selanjutnya adalah pemisahan padatan pada bak pengendap, untuk mengurangi beban zat organik. Proses ini dilakukan secara manual,” ujarnya.

Air limbah sisa pembuatan Pempek itu dimasukkan ke dalam tangki yang berisi bakteri EM16, yang berfungsi mereduksi kandungan zat organik dalam limbah. Setelah reduksi kandungan zat organik, air limbah kemudian dialirkan pada pipa paralon yang bermuara pada tumbuhan tyfa atau Scirpus grossus. Tanaman ini mampu mengurangi kandungan nitrogen dan fosfor.

“Alhasil, limbah yang ada sudah bisa dibuang secara aman,” imbuhnya.

Melalui kerjasama ini, Ipung berharap masih ada tindak lanjut berupa pemantauan IPAL oleh Departemen Teknik Lingkungan ITS selama tiga bulan ke depan. Peninjauan mutu air akan dilakukan oleh timnya, untuk mengukur muju air yang teroleh oleh IPAL ini. Hal ini dapat dipantau melalui kondisi tanaman tyfa yang tumbuh.

“Jika tidak berhasil, kami akan melakukan pembenahan,” kata Ipung.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.