Indonesia-Belanda Fokus Peningkatan Kerja Sama Ekonomi Dan Penanggulangan Terorisme

Petrus - 10 July 2017
Presiden Joko Widodo mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte (foto Superradio/Niena Suartika)

SR, Jerman – Presiden Joko Widodo mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte. Dalam pertemuan tersebut, Presiden RI ke 7 ini menekankan peningkatan kerja sama di sektor ekonomi dan penanggulangan terorisme.

Di bidang ekonomi, Jokowi mengatakan, Belanda merupakan salah satu mitra terpenting perdagangan dan investasi Indonesia di Eropa. Namun dalam beberapa tahun ini, angka perdagangan kedua negara menunjukkan tren menurun.

“Harapan saya, trend ini akan berbalik menjadi positif. Oleh karena itu, perlu kerja keras kita untuk mewujudkan trend positif perdagangan,” kata Jokowi.

Jokowi meyakini apabila negosiasi Indonesia-EU CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement) telah selesai, maka perdagangan bilateral akan alami peningkatan.

“Ada satu hal yang ingin saya mintakan perhatian, yaitu terkait ekspor kelapa sawit Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menggarisbawahi bahwa kelapa sawit Indonesia terus mengalami kampanye negatif di Eropa.

“Baru-baru ini, Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi mengenai sawit dan deforestasi. Penjelasan Indonesia sebelum resolusi sama sekali tidak diperhatikan,” kata Jokowi.

Jokowi mengakui bahwa resolusi tersebut sifatnya tidak mengikat bagi eksekutif, namun ia merasa khawatir kampanye hitam dan diskriminasi tersebut akan merugikan ekspor sawit Indonesia.

“Saya meminta kiranya Belanda dapat memberlakukan secara fair ekspor sawit Indonesia ke Eropa,” kata Jokowi.

Presiden Jokowi juga berharap agar Belanda dapat mendukung upaya Indonesia, supaya model kerja sama standarisasi kayu dan produk kayu melalui FLEGT dapat juga dibuat untuk sawit.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin juga membahas kerjama penanganan terorisme. Jokowi mencatat semakin maraknya radikalisme dan aksi-aksi terorisme di berbagai wilayah dunia, termasuk di Asia dan Eropa. Serangan terorisme yang terjadi di Marawi adalah contoh nyata penyebaran ideologi radikal. Bahkan beberapa bagian kota Marawi sampai sekarang masih diduduki. Ratusan ribu penduduk terpaksa mengungsi.

“Serangan dan pendudukan kota Marawi ini menjadi wake–up call bagi kita semua tentang semakin tingginya bahaya terorisme,” kata Jokowi.

Situasi ini tentunya dapat mengancam stabilitas kawasan. Oleh sebab itu, Indonesia berinisiatif mengadakan pertemuan tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia dan Filipina.

“Untuk menyatukan langkah dan kerja sama tiga negara memberantas terorisme,” katanya.

Jokowi mengingatkan bahwa masalah financing merupakan masalah yang cukup serius. Oleh karenanya, Indonesia dan Belanda harus meningkatkan kerjasama untuk menghentikan pendanaan bagi gerakan radikal dan terorisme.

Selain itu, Presiden Jokowi dan PM Rutte juga membahas kerjama di bidang pengembangan pelabuhan laut.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.