Hoax dan Generasi Muda

Yovie Wicaksono - 18 October 2018
Forum 17an Gusdurian dengan Tema "Generasi Muda Anti Hoax", Rabu (17/10/2018) malam. Foto (Super Radio / Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Hidup di era kemajuan teknologi membuat manusia dibanjiri ragam informasi, mulai dari informasi yang benar dan informasi yang tidak benar (hoax). Terkait dengan info hoax yang banyak beredar, Gusdurian Surabaya menggelar forum 17an dengan tema “Generasi Muda Anti Hoax” di Vihara Buddhayana Dharmawira Centre Surabaya, Rabu (17/10/2018) malam.

Melalui forum ini, diharapkan generasi muda bisa memilah, tidak mudah percaya, dan tidak mudah membagikan informasi yang diterima tanpa mencari tau kebenarannya. Sebagai pemateri dalam forum ini adalah Rovien Aryunia (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia/MAFINDO), M.Sururi (TV9 Nusantara) dan Yovinus Guntur Wicaksono (Aliansi Jurnalis Independen/AJI Surabaya).

Yovinus Guntur Wicaksono mengatakan empat dari sepuluh orang Indonesia aktif di media sosial. Sayangnya, keaktifan di media sosial, tidak diimbangi dengan budaya membaca.  Data UNESCO menyebut, Indonesia berada diperingkat ke 60 dari 61 negara dalam hal minat baca. Ini ironis, karena  hoax dapat dihindari dengan cara banyak membaca.

“Salah satu cara untuk menghindari hoax adalah dengan banyak membaca dan melakukan klarifikasi dari berbagai sumber,” ujar Yovi.

Yovi menambahkan, media sosial yang dimanfaatkan sebagai penyebaran informasi hoax adalah Facebook (82,25 persen), WhatsApp (56,55 persen), dan Instagram (29,48 persen). “Data ini mengacu pada penelitian yang dilakukan Dailysocial.id terhadap 2.031 responden,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan data Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), hoax paling banyak adalah mengenai isu politik dan agama.

Presidium MAFINDO Pusat, Rovien Aryunia mengatakan pentingnya mengenali ciri-ciri hoax, yang pertama adalah to bad to be true or to good to be true, artinya apabila berita atau informasi itu dinilai terlalu buruk/baik untuk menjadi sebuah kebenaran, maka bisa jadi itu hoax.

Begitu juga dengan berita atau informasi yang berisikan pesan sepihak saja, dibumbui unsur agama dan ideologi, mencatut nama ataupun ucapan tokoh tertentu, judul yang provokatif, atau bahkan judul dan isi yang tidak sama.

Rovien menambahkan, saat mendapatkan informasi sebaiknya di cek terlebih dahulu sumbernya, jika portal berita tidak jelas perlu dipertanyakan kebenaran informasinya.

Sedangkan, M. Sururi mengatakan, Indonesia saat ini sedang darurat hoax, yang sama artinya dengan Indonesia darurat agama.

“Indonesia sedang darurat hoax, bisa dikatakan juga sedang darurat agama. Karena hoax adalah sebuah kebohongan, yang bertolak belakang dengan ajaran agama manapun yang menjunjung sebuah nilai kejujuran,” katanya.

Sururi menegaskan, generasi muda harus tetap menjunjung nilai spiritualitas dan kejujuran dalam mengolah maupun saat hendak menyebarkan informasi. Dua hal itu ditambah kebiasaan mengklarifikasi informasi yang didapat dan banyak membaca akan membuat generasi muda terhindar dari hoax. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.