Gusdurian Salurkan Donasi Bagi Keluarga Korban Bom Gereja Surabaya

Petrus - 30 July 2018
Alissa Wahid (kanan) menyerahkan secara simbolis donasi untuk keluarga korban bom gereja di Surabaya (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Jaringan Gusdurian bersama sejumlah pihak menyalurkan bantuan dana kepada keluarga dan para korban teror bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, pada 13 Mei 2018 yang lalu. Bantuan diserahkan secara simbolis di kantor Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya, pekan lalu.

Bantuan berupa uang senilai lebih dari Rp. 300 juta merupakan tanda kasih dari masyarakat seluruh Indonesia, kepada para penyintas dan keluarga korban teror bom. Dua bulan pasca aksi teror, banyak masyarakat yang menyalurkan dana sebagai tanda kasihnya kepada keluarga korban bom.

Koordinator Jaringan Gusdurian Nasional, Alissa Wahid mengatakan, sumbangan yang terkumpul merupakan bentuk solidaritas dan tanda kasih dari masyarakat, yang turut berempati merasakan duka dan kesedihan keluarga korban dan penyintas bom gereja di Surabaya. Ini merupakan bukti bahwa aksi teror tidak berhasil memecah belah dan menakuti masyarakat.

“Untuk korban bom Surabaya, ada beberapa inisiatif, ada beberapa masyarakat yang mencoba mengumpulkan bantuan dana, ada dari alumni Boston University, ada dari Jaringan Gusdurian, ada dari Youtubers, dan itu semua dititipkan melalui Jaringan Gusdurian Surabaya untuk diserahkan kepada korban,” kata Alissa Wahid.

“Tujuan kami adalah menyampaikan bahwa, masyarakat Indonesia berbela rasa, ikut merasakan apa yang menjadi duka warga Surabaya, terutama korban bom. Dan yang kedua, kita ingin menunjukkan bahwa aksi teror itu gagal untuk memporak porandakan semangat kebangsaan bangsa Indonesia,” imbuhnya.

Suyatmi, istri dari almarhum Warsiman, juru parkir di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuno yang ikut menjadi korban, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepedulian dan perhatian masyarakat kepada korban bom di tiga gereja, pertengahan Mei lalu. Suyatmi berharap Surabaya kembali aman dan tidak ada teror yang dilakukan orang yang tidak bertanggung jawab.

“Suami saya kan orang muslim, suami saya kan tukang parkir di situ, itu kan melindungi jemaah itu, mobil masuk mau ngebom itu kan suami saya yang melindungi, yang mencegah masuk ke gereja itu. Mau bubar itu kan, terus suami saya tidak memperbolehkan masuk itu langsung, setengah meter itu suami saya langsung mobilnya dor gitu, dua kali kan mbledosnya (meledak) itu,” kata Suyatmi.

“Mudah-mudahan Surabaya ini aman, tenteram, dan tidak ada kerusuhan apa-apa lagi, semua kompak, semua gotong royong, masyarakat Surabaya orangnya baik-baik, sebelumnya kan tidak ada apa-apa kan baik-baik saja, semua peduli sama sesama manusia,” lanjutnya.

Fransiska Ida, ibu dari almarhum Aloysius Bayu, korban meninggal di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, di Jalan Ngagel, mengaku telah memaafkan pelaku karena agamanya mengajarkan tentang mengasihi sesama meskipun disakiti. Ida juga berterima kasih atas perhatian masyarakat kepada anaknya.

“Dari Gereja kan kita diajari kasih, jadi ya kita harus tetap kasih dengan sesama, walaupun kita jadi korban kita tetap kasih,” ujarnya.

Pendeta Lydia Laurina dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro mengatakan, bantuan dari masyarakat yang diterima petugas keamanan gereja bernama Yesasa yang terluka akibat serangan bom, menjadi bukti besarnya perhatian masyarakat dan rasa cinta kasih yang melampaui sekat-sekat perbedaan.

“Justru peristiwa yang kemarin itu mengingatkan kita untuk semakin kuat membangun tali persaudaraan. Kita tidak perlu terpecah belah oleh kebencian, kecurigaan satu sama lain, tapi justru harus mengingatkan kita untuk lebih banyak berdialog, lebih banyak bekerja sama dalam karya-karya yang baik untuk bangsa kita, sehingga kalau kita ikatan kuat itu kan kita jadi tidak mudah diadu, tidak mudah untuk dipecah belah satu sama lain. Kami berterima kasih, justru ditengah peristiwa yang kemarin, ya di satu sisi ada rasa duka, ada kesedihan, tapi di sisi lain support, solidaritas yang begitu besar, perhatian yang begitu besar dari banyak kalangan, banyak pihak,” ungkapnya.

Alissa Wahid mengatakan, tujuan teroris melalui aksinya dipastikan tidak berhasil membuat warga Surabaya saling curiga dan membenci. Malah masyarakat Surabaya saling menguatkan dan solider kepada korban.

“Para teroris itu inginnya kita terpecah belah, para teroris ingin kita saling membenci, para teroris itu ingin kita saling curiga, dan itu ternyata dibuktikan oleh arek-arek Suroboyo, bahwa tidak terjadi. Justru bom Surabaya itu membuat arek-arek Suroboyo semakin kuat, semakin solid, semakin tangguh. Semua orang di seluruh Indonesia ikut bersolidaritas dan ikut menjalani prosesnya bersama-sama,” pungkas Alissa.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.