Gusdurian dan Aliansi Lintas Iman Deklarasikan Hari Persaudaraan Sejati

Petrus - 25 August 2018

SR, Surabaya – Gerakan Gusdurian (Gerdu) Suroboyo bersama Aliansi Lintas Iman Surabaya menggelar acara Solidaritas Melodi Tanpa Batas, di kawasan Prapen, Surabaya, Jumat (24/8/2018) malam. Malam solidaritas ini untuk memperingati 100 hari peristiwa teror bom di 3 gereja di Surabaya, yakni Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel, Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan di Jalan Arjuno.

Belasan orang jemaat dan warga yang berada di luar gedung gereja, meninggal dunia karena menjadi korban serangan teror bom. Malam solidaritas ini menjadi ajang mempererat tali silaturahmi sambil menampilkan aneka kesenian dan budaya, refleksi iman dan kebangsaan, yang diikuti oleh seluruh pemuka dan umat beragama dari agama dan keyakinan yang berbeda.

Ketua Panitia, Cahaya Purnama Putra mengatakan, melalui tampilan seni dan budaya bertajuk Solidaritas Melodi Tanpa Batas, ingin menegaskan kebudayaan dapat menyatukan dan mempererat persaudaraan serta kesatuan bangsa.

“Banyak yang kami tampilkan, paduan suara, kebudayaan tari-tarian, tari Bali tadi sudah tampil juga, ada tari kontemporer dari gereja yang lain juga. Ya banyak elemen yang bersedia bergabung di acara malam ini, ya itu yang kami tampilkan, karena sesuai dengan tajuk acara kami,” kata Cahaya Purnama.

Koordinator Gusdurian Surabaya, Yuska Harimurti mengatakab, peristiwa bom di Surabaya pada 13 Mei 2018 lalu telah melahirkan semangat solidaritas dan persaudaraan yang tinggi dari berbagai elemen masyarakat, tanpa memandang perbedaan yang ada selama ini. Masyarakat menjadikan peristiwa ini sebagai momentum mempererat rasa solidaritas.

“Semangat gotong royong itu selalu menunjukkan keterlibatan, baik senang atau susah. Persitiwa bom Surabaya, dari segi positifnya kita melihat bahwa seluruh warga Surabaya, mulai dari unsur Bonek, unsur agama, unsur masyarakat, semuanya mengutuk keras, semuanya melakukan solidaritas kepada para korban dan juga kepada gereja. Ini adalah sebuah potret positif yang sebenarnya bisa kita lihat di Surabaya,” kata Yuska.

“Momen ini jug kita buat sebagai pengingat kepada kota-kota lain, bahwa kekerasan terorisme itu bisa terjadi di mana saja,” imbuhnya.

Anita Wahid, dari Seknas Jaringan Gusdurian mengatakan, pertemuan untuk memperingati 100 hari bom Surabaya, telah membangkitkan rasa persaudaraan sejati meski berawal dari sebuah tragedi kemanusiaan.

“Pertemuan hari ini memang berangkatnya dari sebuah tragedi yang memang sudah menyayat kita sebagai satu bangsa, tetapi walaupun itu adalah tragedi, bukan berarti kita tidak bisa mempergunakannya untuk bangkit,” kata Anita Wahid.

“Hari ini kita memutuskan untuk bangkit dan menjadikannya sebagai hari Persaudaraan Sejati, artinya itu mengingatkan kita lagi bahwa sebenarnya peristiwa yang kemarin terjadi itu adalah karena kita kehilangan makna diri kita sebagai saudara, kita lupa bahwa mereka yang berbeda itu juga sama loh sama kita, sama-sama satu saudara,” lanjutnya.

Pastor Kepala Paroki Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya, Romo Alexius Kurdo Irianto, menyebut tragedi bom gereja di Surabaya bukan sebagai musibah, melainkan sebagai kesempatan untuk berani keluar dari diri sendiri. Manusia diajak untuk mampu merangkul manusia lain sebagai saudara, terutama yang terluka oleh tindak kekerasan.

“Yang ditekankan ya berani keluar dari diri sendiri untuk menjumpai saudara-saudara yang lain dengan persaudaraan sejati, dengan tiga nilai itu, equalitysolidarity dan unity,” kata Romo Kurdo.

Romo Kurdo menambahkan, manusia sebagai citra Allah harusnya mampu memaknai peristiwa yang terjadi sebagai kesempatan untuk menghargai nilai-nilai kemanusiaan, dan menjauhi kekerasan kepada manusia lain.

“Dengan kekerasan kan kemanusiaan yang dilukai, maka ini bukan persoalan agama, ini persoalan kekerasan, dan kekerasan adalah dehumanisasi,” ujarnya.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Surabaya, I Wayan Suraba, merefleksikan peringatan 100 hari bom gereja di Surabaya sebagai kesempatan untuk saling berjumpa dengan masyarakat dari berbagai agana dan etnis. Perjumpaan dengan saling mengenal dipercaya akan semakin memperat persaudaraan antar anak bangsa.

“Mengumpul begini kan sebuah pemikiran, sebuah karya yang sangat positif. Karya yang positif kita bisa bersilaturahmi dengan sesama, dari etnis dan agama dan lain sebagainya, ini sebuah aura positif hasil dari pada sebuah evaluasi. Ketika kita berkumpul, secara otomatis tali persaudaraan semakin terjaga.

Anita Wahid, putri ketiga dari Presiden Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur menegaskan, masyarakat harus mau saling membantu mengatasi berbagai persolan bangsa, agar masalah yang dihadapi lebih mudah diselesaikan.

“Ketika kita memutuskan untuk bangkit, ketika kita memutuskan untuk bangun dari tempat itu, dari peristiwa tersebut, kita tidak perlu menunggu siapa-siapa untuk saling membantu. Ayo kita bantu bareng-bareng,” tandas Anita Wahid.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.