Gunung Bromo, Salah Satu Obyek Wisata Andalan Jawa Timur

Petrus - 16 June 2018
Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru, saat Gunung Bromo mengeluarkan asap 2016 yang lalu (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Berwisata ke Jawa Timur tidaklah lengkap bila belum berkunjung ke salah satu obyek wisata paling diminati para turis asing, yaitu Gunung Bromo. Gunung Bromo merupakan gunung berapi aktif yang memiliki ketinggian 2392 mdpl (meter di atas permukaan laut), terletak di wilayah 4 Kabupaten, yaitu Lumajang, Malang, Pasuruan, dan Probolinggo. Tempat wisata Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TMBTS), yang telah menjadi icon pariwisata di Jawa Timur.

Berwisata ke Gunung Bromo, pengunjung dapat melalui beberapa pintu masuk, yakni melalui jalur Desa Ranu Pane, di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Melalui jalur Jemplang di Desa Bulak Klakah, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, yang akan melewati padang savana Gunung Bromo.

Bila melalui Kabupaten Pasuruan, pengunjung dapat menempuh jalur Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, untuk selanjutnya melalui Penanjakan Gunung Bromo. Sedangkan jalur favorit wisatawan adalah melalui Desa Cemoro Lawang, di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Jalur ini merupakan pintu utama untuk memasuki kawasan Gunung Bromo, setelah sebelumnya dapat singgah ke wisata Air Terjun Madakaripura.

Saat mengunjungi obyek wisata Gunung Bromo, alangkah baiknya kalau wisatawan telah mempersiapkan atau memesan tempat menginap terlebih dahulu. Seperti di pintu masuk Gunung Bromo melalui Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, ada banyak hotel, vila, penginapan atau guest houst, yang tersebar di jalur menuju Bromo.

Harganya pun bervariasi, mulai yang mahal kisaran Rp. 1 juta per kamar dengan fasilitas lengkap, hingga yang murah kisaran Rp. 250 ribu per kamar untuk pengunjung ala backpacker. Hal ini karena Bromo sangat menarik untuk dinikmati pada pagi hingga malam hari, sehingga perlu waktu lebih lama untuk dapat menjelajah sejumlah obyek wisatan di Gunung Bromo.

Jangan lupa, sebelum berangkat ke Gunung Bromo, perlu mengetahui musim apa saat itu, apakah musim kemarau atau penghujan, sehingga persiapan dapat dilakukan. Ada baiknya mempersiapkan perlengkapan-perlengkapan pribadi seperti jaket, kaos tangan, kaos kaki dan masker.

Namun, bila tidak sempat menyiapkan, ada banyak penjual penutup kepala dengan harga antara Rp. 10 ribu hingga Rp, 15 ribu untuk satuannya. Agar momen tak terlupakan ini tidak lewat begitu saja, kamera foto atau handycam harus sudah siap sebelum naik ke Gunung Bromo.

Banyak tempat menarik di Bromo yang sayang untuk dilewatkan, diantaranya Penanjakan untuk menikmati matahari terbit atau sunrise, kawah Bromo, padang rumput savannah, bukit Teletubies, Pasir Merbisik, bukit Mentigen, B 29 Argosari, serta masih banyak lagi.

Bila ingin menikmati matahari terbit atau sunrise melalui Penanjakan 1, pengunjung harus berangkat lebih awal yakni sekitar pukul 03.00 dini hari, agar tidak terlambat melihat keindahan matahari terbit dari Bromo. Sedangkan Penanjakan 2 atau biasa disebut View Point Seruni adalah alternatif untuk melihat keindahan matahari terbit di Bromo, meski lokasinya lebih rendah dari Penanjakan 1.

Pengunjung dapat menyewa jeep atau hartop karena kondisi jalan yang memiliki banyak tikungan tajam dan curam. Sewa jeep berkisar Rp. 400-700 ribu untuk 5-6 orang, tergantung dari mana berangkatnya. Bisa juga menggunakan kendaraan pribadi atau sepeda motor, asalkan telah teruji mampu melewati jalan yang sulit.

Sejumlah kuda tertambat siap mengantar pengunjung mengelilingi sejumlah obyek wisata di Gunung Bromo (foto : Superradio/Srilambang)

 

Bila hendak menuju obyek Pasir Berbisik, pengunjung akan melewati pos masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dengan membayar tiket masuk. Untuk masuk area Bromo dan sekitarnya di hari kerja ditarik tarif masuk Rp. 27.500 per orang untuk wisatawan nusantara, dan Rp. 217.500 untuk wisatawan mancanegara. Sedangkan untuk hari libur ditarik tarif masuk Rp. 32.500 untuk wisatawan nusantara, dan Rp. 317.500 untuk wisatawan mancanegara.

Sedangkan untuk masuk ke area Semeru dan sekitarnya, di hari kerja ditarik tarif masuk Rp. 17.500 untuk wisatawan nusantara, dan Rp. 307.500 untuk wisatawan mancanegara. Kendaraan roda 4 sekali masuk membayar Rp. 10.000, Roda 2 membayar Rp. 5.000 sekali masuk, sepeda dan kuda masing-masing Rp. 2.000 dan Rp. 1.500 sekali masuk.

Disebut Pasir Berbisik oleh masyarakat setempat, karena lautan pasir yang diterpa angin mengeluarkan suara desisan yang khas, seperti membisikkan sesuatu di telingga orang yang ada di situ. Di antara hamparan lautan pasir juga dapat dilihat pemandangan lereng-lereng kalendra sebagai pembatas lautan pasir dengan hutan gunung Bromo yang indah.

Tidak ketinggalan lembah hijau yang dikelilingi tebing-tebing menjulang tinggi di tenggara Gunung Bromo, dan beberapa punggungan gunung-gunung kecil. Padang rumput hijau atau biasa disebut Savannah menjadi tempat yang tidak boleh terlewatkan saat berada di Bromo, sebagai pemandangan kontras dengan lautan pasir yang gersang.

Tak jauh dari situ ada pula Bukit Teletubies, yang merupakan gunungan-gunungan kecil yang ditumbuhi rerumputan khas pegunungan, menambah keindahan Gunung Bromo. Disebut Teletubies karena mirio dengan yang ada di film Teletubies.

Bagi yang masih memiliki energi lebih, dapat mencoba naik ke atas Kawah Gunung Bromo. Kawah Gunung Bromo memiliki diameter 800 meter, yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki, dan dilanjutkan dengan menapaki 250 anak tangga.

Bila tidak sanggup berjalan, dapat pula memanfaatkan jasa tunggang kuda yang telah disediakan. Dari puncak kawah Bromo dapat dilihat pemandangan indah pegunungan Tengger dan Gunung Batok, yang membentuk garis terjal di samping kawah Gunung Bromo.

Jangan kuatir kalau anda kedinginan saat menunggu matahari terbit di Penanjakan, karena cukup banyak warung yang menjual minuman dan makanan hangat, sambil berdiang di perapian yang disediakan pemilik warung. Bila hujan dan lupa bawa payung atau jas hujan, ada juga penjual jas hujan plastik yang menjajakan dagangannya dengan harga Rp. 15 ribu per buah.

Setelah puas menikmati keindahan panorama Gunung Bromo dan sekitarnya, dan mengabadikan melalui kamera masing-masing, pengunjung dapat pulang dengan membawa bungan abadi atau edelweiss yang dijual warga di pinggir jalan menuju pulang. Bagi yang suka memasak, ada beberapa warga setempat yang menggelar aneka jenis sayuran segar dan buah-buahan yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.