Gizi Buruk di Pulau Seram Maluku dan Lebak Banten, Pemerintah Lakukan Penanganan Cepat

Petrus - 29 July 2018

SR, Jakarta – Kejadian gizi buruk yang ditemui di Kampung Siahari, Desa Morokay, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, Kabupaten Maluku Tengah, serta di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, membuat pemerintah melakukan upaya cepat untuk menangani masalah ini.

Sebelumnya, pada Selasa 24 Juli 2018, Dinas Kesehatan Maluku Tengah segera menurunkan tim dari Pusat Kesehatan Pasahari B dan Puskesmas Morokay, setelah menerima laporan kasus kelaparan yang dialami komunitas terasing Suku Mausu Ane di Provinsi Maluku.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Dr. Achmad Yurianto dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Dr. Meykal Pontoh, melalui informasi yang dihimpun Kantor Staf Presiden, menyebutkan bahwa lokasi Kampung Siahari hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki, selama kurang lebih 15-20 jam perjalanan dari desa terdekat.

Tim yang diturunkan terdiri atas 5 petugas kesehatan dan 10 prajurit TNI, yang bertugas membawa beras, makanan dan minuman tambahan untuj warga, dengan melewati jalan setapak dan menyeberangi sungai.

Sebelumny, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, pada Rabu, 25 Juli 2018, di Jakarta mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk mengatasi masalah ini dengan segera.

“KSP sudah berkoordinasi dengan kementerian teknis, para petugas di lapangan, untuk mengatasi kejadian gizi buruk ini, termasuk menurunkan tim. Sebagaimana kasus yang sebelumnya terjadi di Asmat, Papua, Pemerintah memberikan perhatian serius pada kejadian gizi buruk di Maluku Tengah,” kata Moeldoko.

Suku Mausu Ane merupakan masyarakat terasing dengan pola hidup yang berpindah-pindah untuk mendapatkan makanan. Petugas kesehatan dan prajurit TNI di lokasi, menemukan 2 orang korban meninggal dunia, yang terdiri dari 1 orang lansia, dan 1 anak difabel yang ditinggal kelompoknya yang sudah berpindah lokasi dari tempat ditemukannya para korban.

Para petugas lapangan juga telah mengirimkan bantuan logistik makanan dan minuman pada masyarakat, sejak Rabu 25 Juli 2018. Para petugas didampingi oleh Kasdim 1502/Masohi Mayor Inf. Adi Eka Jaya, Danramil 1502-05 Wahai Kapten Cba. La Ode Maaruf, beberapa pendeta pemimpin jemaat, Kepala Dusun Siahari, Babinsa Koramil 1502-05 Wahai, serta beberapa ibu Persit Kartika Candra Kirana Kodim 1502 Maluku Tengah, dan Koramil 1502-05 Wahai.

Pemeriksaan kesehatan dan pengobatan terhadap anggota masyarakat Suku Mausu Ane yang sakit, dilakukan oleh para petugas. Sebagian dari masyarakat menderita muntaber karena meminum air sungai yang belum dimasak.

Tim dari Kantor Staf Kepresidenan sebelumnya juga telah terjun ke lapangan untuk memastikan penanganan gizi buruk di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Tim saat ini telah berkoordinasi dengan para petugas di lapangan, untuk menangani kejadian itu.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden yang menangani kasus gizi buruk di Lebak, Dr. Brian Sriprahasti mengatakan, banyak kasus tuberkulosis yang dialami warga, yang kebanyakan dari mereka enggan memeriksakan diri ke tempat layanan kesehatan.

“Kami menemukan ada keluarga yang anggotanya mengidap tuberkulosis kronis dan memerlukan penanganan segera. Keluarga lainnya tidak mau memeriksakan diri karena alasan keyakinan. Kasus gizi buruk yang terjadi di Kabupaten Lebak, bukan semata-mata masalah asupan makanan atau akses terhadap layanan kesehatan, melainkan karena latar belakang penyakit kronis dan faktor eksternal lainnya. Sejauh ini semua kasus gizi buruk telah ditangani oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.