Gerakan 1.000 Hari Pertama Kehidupan, Upaya Menurunkan Resiko Kematian Ibu dan Bayi

Petrus - 25 January 2017
Tri Rismaharini, Walikota Surabaya, menandatangani pencanangan gerakan 1.000 Hari Pertama Kelahiran di Balai Pemuda (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya mencanangkan Gerakan 1.000 Hari Pertama Kehidupan, sebagai upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Surabaya. Pencanangan dilakukan di Gedung Balai Pemuda Surabaya, Rabu (25/1), yang diikuti seluruh puskesmas dan rumah sakit di Surabaya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Febria Rachmanita mengatakan, gerakan ini bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan di Surabaya, yang mencapai 28 kasus kematian pada tahun 2016, atau sedikit turun dibandingkan tahun 2015 yang tercatat ada 39 kasus kematian.

“Kita lakukan pendampingan dan pembinaan kepada para calon pengantin, mulai dari sebelum menikah, kehamilan, sampai memiliki anak hingga usia 2 tahun, tujuannya untuk mencegah kematian ibu melahirkan,” kata Febria Rachmanita.

Meski angka kematian ibu melahirkan di Surabaya tergolong rendah, upaya pencegahan dianggap penting untuk menyelamatkan nyawa ibu melahirkan beserta bayinya. Pendampingan dilakukan dengan memberikan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, hingga penanganan masa kehamilan dan kelahiran.

“Setelah melahirkan si ibu harus menyusui 6 bulan ASI ekslusif, bahkan sampai umur 2 tahun dia tetap diberi ASI,” ujar Febria.

Dinas Kesehatan Kota Surabaya mencatat ada 315 calon pengantin yang bersedia mengikuti program 1.000 Hari Pertama Kehidupan, yang selanjutnya akan dilakukan pendampingan oleh bidan atau dokter yang telah disiapkan.

“Jadi 1 bidan mendampingi 3 orang ibu hamil, kemudain ibu hamil itu juga mendapat donor (darah) dari 4 orang, ya karena kasus kematian ibu melahirkan banyak karena pendarahan. Kemudian bidan ke rumah, para dokter ke rumah,” terang Febria.

Mempersiapkan kehamilan menurut Walikota Surabaya Tri Rismaharini sangat penting dilakukan, karena sama dengan mempersiapkan generasi penerus bangsa yang unggul dan berkualitas. Persoalan gizi makanan dan kesehatan menjadi faktor utama bagi ibu hamil untuk menghasilkan keturunan yang berkualitas.

“Ibu hamil itu harus memperhatikan masa depan anak yang dikandungnya. Mulai dia kedepan IQnya seperti apa, kecerdasan intelektualnya seperti apa, kemudian fisiknya seperti apa, sebetulnya bisa direncanakan itu,” kata Tri Rismaharini.

Risma menjanjikan akan memperhatikan kualitas gizi makanan bagi anak, khususnya dengan menambah asupan gizi dari makanan berbahan dasar ikan. Tidak hanya anak di tingkat PAUD dan TK, anak usia 8 tahun atau kelas 2 SD juga akan menjadi sasaran pemberian makanan bergizi dari Pemerintah Kota Surabaya.

“Saya coba menunya diubah, jadi ada sebagian ikan. Tahun 2017 ini kita memberikan makanan  untuk anak PAUD, jadi seminggu sekali kita berikan. Nanti kalau ini berhasil, tahun depan kita usalkan untuk makanan bagin anak SD kelas 1 dan 2,” jabar Risma.

Pentingnya persiapan sebelum kehamilan juga dialami Dian Fitriani, ibu rumah tangga di Surabaya. Pemeriksaan kehamilan dan kesehatan calon ibu merupakan langkah penting untuk mengantisipasi penyakit yang dapat mengancam keselamatan ibu hamil dan melahirkan.

“Kita kan juga berkala ya, periksanya rutin, jadi tahunya kita darahnya tekanannya tinggi ya dari cek berkala itu, jadi bisa diminimalisir nanti efeknya apa waktu kelahiran, dan intinya satu jangan stres, kalau stres itu nanti tubuh itu tidak bisa bekerjasama sama bayi yang akhirnya bisa terjadi jantungnya berdetak cepat, atau hal-hal abnormal lainnya,” ungkap Dian yang rajin mengkonsumsi makanan bergizi dan buah-buahan untuk asupan bayinya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.