Geliat Pariwisata Banyuwangi Dongkrak Pertumbuhan Industri Kopi Rumahan

Petrus - 14 January 2018
Masyarakat Kelurahan Gombengsari Kecamatan Kalipuro sedang belajar bersama cara menyangrai biji kopi untuk dijadikan kopi yang berkualitas tinggi (foto : Superradio/Fransiscus Wawan)

SR, Banyuwangi – Jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Banyuwangi mengalami peningkatan hingga 4,3 juta per November 2017, baik wisatawan nusantara (Wisnus) maupun wisatawan mancanegara  (Wisman).

Hasil survei Alvara Research Indonesia 2017 menyebutkan, terkait oleh-oleh atau jajanan khas Banyuwangi, dari 100 responden yang disurvei ada 75 wisman memilih roasted been atau biji kopi utuh yang telah disangrai (roasting).

Tidak hanya kopi, ada banyak jenis oleh-oleh yang mudah ditemukan jika berkunjung ke Banyuwangi. Seperti batik, kerajinan bambu, kue bagiak, makanan ringan ladrang sabrang (ubi), kaos, dan oleh-oleh lainnya.

“Memang sih, kalau wisatawan asing selalu kopi yang dicari,” kata Kami Siswanto, Manajer toko oleh-oleh Osing Deles Banyuwangi, Minggu, (14/1/2018)

Terdapat empat produk kopi, yakni Kopi Lego (Lerek Gombengsari) yang mematenkan nama dusun tersebut, Dusun Lerek Kelurahan Gombengsari Kecamatan Kalipuro, kedalam sebuah merek bubuk kopi kemasan. Ada juga merek Kopi Seblang dari lingkungan Suko, serta Kopi Kasela dan Kopi Kahyangan dari Kacangan. Beberapa merk tersebut diproduksi secara home industry oleh kelompok tani maupun perorangan dan memperkenalkan nama daerahnya.

“Penggemar kopi tidak hanya wisatawan asing, masyarakat lokal maupun wisatawan dari daerah-daerah juga kerap berburu kopi,” kata Ahmad Kholil (33), wisatawan asal Lumajang, saat dijumpai di Java Sunrise, Jalan MH. Thamrin, Banyuwangi, Sabtu (13/1/2018).

Kholil mengatakan, selama seminggu ini dirinya bersama keluarga mengunjungi beberapa daerah wisata di Banyuwangi, seperti Pulau Merah Pesanggaran, Bangsring Under Water (Bunder) Wongsorejo.

“Kalau cuaca mendukung, nanti saya ke Ijen sebelum kembali beraktivitas di daerah saya. Saya juga sudah menyiapkan oleh-oleh kopi lanang dan kopi Lego untuk pakdhe dan kakek saya dirumah,” kata dia.

Lurah Gombengsari, Purwito mengatakan, kini di daerah Gombengsari sejak 15 tahun terakhir produksi panen kopi jenis robusta meningkat dari 7 kwintal green been (kopi OC) menjadi 1,3 ton per hektar per tahun. Ini terjadi setelah para petani mengikuti program pelatihan Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT).

“Tak diragukan lagi pengalaman mereka dalam mengelola kebun agar produksinya maksimal. Saat ini warga juga telah melek mengembangkan bisnis usaha kopi bubuk brand sendiri ke toko oleh-oleh di Banyuwangi, toko online maupun kafe-kafe,” kata Purwito.

Untuk memperkenalkan daerah, lanjut Suwito, potensi daerah tersebut harus diangkat dan dipromosikan secara bersama-sama. Seperti menawarkan lokasi perkebunan untuk gathering. Sejauh ini pihaknya bersama-sama dengan warga setempat berupaya untuk konsisten menjaga bahan baku produk, untuk menjaga kualitas kopi yang dihasilkan serta memperhatikan kemasan (packaging).

“Sekarang kami fokus meningkatkan kualitas pada pengolahan pasca panen. Untuk produksi perkebunan sudah bagus, masyarakat kita sudah ahlinya. Mereka juga sudah terbiasa menerapkan petik merah,” pungkasnya.(wan/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.