Forum Kebangsaan Jawa Timur, Tekad Pemuda Jaga Kerukunan dan Persaudaraan

Petrus - 16 February 2017
Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf hadiri diskusi dan penandatanganan Prasasti Kebangsaan, di acara Forum Kebangsaan Jawa Timur di Surabaya (foto : Superradio/ Srilambang)

SR, Surabaya – Sebanyak 21 organisasi pemuda dari berbagai bidang maupun lintas agama meluncurkan Forum Kebangsaan Jawa Timur, di Surabaya, Kamis (16/2/2017). Forum Kebangsaan merupakan tempat untuk semua elemen atau organisasi kemasyarakatan di Jawa Timur, yang menghendaki situasi aman dan kehidupan yang rukun tetap terjalin di Jawa Timur.

Launching Forum Kebangsaan Jawa Timur diisi dengan tampilan kesenian, puisi, serta orasi kebangsaan dari setiap organisasi yang hadir. Selain itu, juga ditandatangani Prasasti Kebangsaan oleh semua elemen kepemudaan yang hadir.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf yang hadir dalam Forum Kebangsaan, mengapresiasi gerakan generasi muda di Jawa Timur yang menginginkan kerukunan dan kedamian di Jawa Timur. Kondisi yang sudah aman dan kondusif di Jawa Timur harus terus dijaga, serta tidak sampai terpengaruh konflik dan suhu politik yang memanas di Jakarta maupun daerah lain.

“Jangan sampai yang terjadi di daerah-daerah lain, terutama suasana yang bisa mengganggu persaudaraan terjadi di Jawa Timur. Kalau perlu di Jawa Timur bisa jadi contoh, bahwa perbedaan bisa disikapi dengan arif,” kata Saifullah Yusuf.

Saifullah Yusuf yang juga Ketua PBNU mengajak masyarakat menjaga persaudaraan antar warga, dengan mengedepankan dialog atau musyawarah untuk menyelesaikan setiap permasalahan. Persatuan dan kerukunan merupakan kunci untuk menjamin keberlangsungan pembangunan, sehingga jangan sampai terganggu oleh konflik yang tidak perlu terjadi.

“Kerukunan ini harus kita jaga, kebersamaan ini harus kita jaga. kalau ada masalah-masalah mari kita bicarakan, kita musyawarahkan, cari solusi,” lanjut Saifullah Yusuf.

Ketua Forum Kebangsaan Jawa Timur, Rudi Triwahid mengatakan, masyarakat tidak mudah terpengaruh atau ikut-ikutan dalam konflik atas dasar isu agama. Situasi panas di Jakarta atau tempat lain jangan sampai melibatkan masyarakat di tempat lain.

“Selama ini kita dipertontonkan pertarungan, perbedaan, konflik, caci maki, tapi sebenarnya yang terjadi di Jawa Timur tidak begitu. Nah ini harus ditunjukkan ke masyarakat, Jawa Timur tidak seperti yang ditonton selama ini,” ujar Rudi.

Forum Kebangsaan Jawa Timur mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya pemuda, untuk bersama-sama menangkal berbagai upaya yang ingin persatuan dan kesatuan bangsa terpecah. Ketua Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Jawa Timur, Pendeta Simon Filantropa mengatakan, kerelaan untuk memaafkan harus menjadi pegangan bila ingin menjadi bangsa yang maju. Mengutip pernyataan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, Simon mengajak masyarakat mampu memaafkan masa lalu yang dirasa menyakitkan, agar tidak membebani langkah bangsa untuk menjadi maju.

“Kalau bangsa ini mau maju, dia harus bisa memaafkan masa lalunya. Gus Mus sempat menyampaikan mengenai mengabadikan kebaikan dengan melupakan. Karena kalau segala kesalahan itu dibawa-bawa menuju masa depan, kita akan terseok-seok,” pungkasnya(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.