Fokus Kesehatan Masyarakat, Kades Bagikan Kartu Bringinan Sehat

Petrus - 29 October 2017
Kepala Desa Bringinan, Barno menunjukkan Kartu Bringinan Sehat (foto : Superadio/Gayuh Satria)

SR, Ponorogo – Banyaknya lansia di Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo yang kurang mendapat perhatian kesehatan, menjadi dasar bagi kepala desa untuk membuat progam pelayanan kesehatan setiap satu bulan sekali di desanya.

Pada awalnya hanya warga yang mendapat Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang memeriksakan kesehatannya di Puskesdes. Lama kelamaan terjadi kecemburuan karena banyaknya pemegang KIS yang tidak tepat sasaran. Padahal banyak dari pemegang KIS adalah warga yang sebenarnya mampu.

“Waktu pembagian KIS sempat terjadi kekisruhan karena ada beberapa data yang kurang tepat, sebab itu saya membuat Kartu Bringinan Sehat (KBS),” kata Barno.

Kartu Bringinan Sehat sendiri menyasar semua warga desa yang usianya sudah menginjak 60 tahun keatas tanpa terkecuali baik mampu atau kurang mampu. Fasilitas KBS meliputi konsultasi kesehatan, pemeriksaan tekanan darah, cek asam urat, kolesterol dan cek gula darah. Bahkan saat selesai memeriksakan kesehatannya warga diberi bingkisan berupa makanan, vitamin, dan susu khusus lansia.

“Semuanya gratis, mau periksa di Puskesdes maupun di Puskesmas Jambon tidak akan di pungut biaya,” terang Barno.

Saat ini pengobatan menggunakan KBS masih sampai sebatas di Puskesmas Kecamatan Jambon, kedepannya Barno berharap bisa sampai gratis cek kesehatan di RSUD. KBS sendiri untuk sementara masih mengambil 8 persen dari dana desa, dengan jumlah penerima kartu sebanyak 210 lansia dari 1.500 lebih penduduk desa.

Bukan hanya KBS yang mensejahterakan para lansia di Bringinan. Barno juga meluncurkan mobil ambulance sebagai salah satu fasilitas desa. Menariknya, pembelian mobil ambulance tersebut sama sekali tidak menggunakan dana desa melainkan sumbangan dari donatur.

“Warga yang di luar negeri dan yang sukses merantau sepakat untuk menjadi donatur guna membeli ambulance desa,” cakap Barno.

Latar belakang adanya mobil untuk ambulance desa ini karena saat pelayanan kesehatan, panitia kewalahan untuk menjemput menggunakan motor, sedangkan jumlah panitia juga terbatas. Bahkan tak jarang warga kebingungan untuk mencarter mobil guna mengantar kerabat yang sakit, karena sedikitnya warga yang memiliki mobil pribadi.

“Jika ada warga luar desa membutuhkan pertolongan menggunakan ambulance desa kami monggo, asal tidak berbarengan dengan desa Bringinan,” pungkasnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.