FKPL Pasuruan dan Ecoton Deklarasikan Gerakan Sungai Bebas Sampah Popok

Petrus - 20 September 2017
FKPL Kabupaten Pasuruan dan Ecoton mendeklarasikan Gerakan Kabupaten Pasuruan Bebas Sampah Popok (foto : Ecoton)

SR, Surabaya – Prihatin dengan banyaknya sampah popok bayi sekali pakai di sungai-sungai di wilayah kabupaten Pasuruan, Forum Komunikasi Peduli Lingkungan (FKPL) Kabupaten Pasuruan bersama Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton), mendeklarasikan Gerakan Kabupaten Pasuruan Bebas Sampah Popok, di Alun-alun Bangil, Selasa siang (19/9/2017).

Dikatakan Christia Anggraeni, Koordinator Lapangan FKPL Pasuruan, pihaknya tidak menginginkan sungai sebagai salah satu sumber kehidupan, berubah menjadi tempat sampah atau tempat membuang popok bekas.

“Kami mendorong masyarakat, pemerintah, dan produsen popok untuk membersihkan sampah popok di sungai-sungai di Kabupaten Pasuruan,” seru Christia.

Lebih lanjut Christia menyatakan, FKPL menyiapkan formula pengendalikan pembuangan popok ke sungai dengan tiga pendekatan.

“Pertama, meminta kepada Pemkab dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan menyediakan drop-box sampah di tepi-tepi sungai, membangun sarana sanitary landfill di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), serta menerapkan sanksi pidana bagi pembuang popok ke sungai,” kata Christia.

“Kedua, menuntut kepada produsen ikut andil dalam penanganan sampah popok. Misalnya dengan menggurangi pemakaian bahan kimia berbahaya dan plastik dalam popok bayi. Dan ketiga, mensosialisasikan kepada masyarakat untuk kembali menggunakan popok kain,” imbuhnya.

Ditemui secara terpisah, Direktur Ecoton, Prigi Arisandi memperkirakan masyarakat di Daerah Aliran Sungai (DAS), terutama di DAS Brantas Jawa Timur, menggunakan 3 juta popok bayi per hari. Berdasarkan temuan Ecoton, sebesar 37 persen sampah di sungai terdiri dari popok bekas.

“Kalau kita melihat data BPS tahun 2013, ada kurang-lebih 750 ribu bayi yang tinggal di 15 kabupaten-kota yang dilewati Brantas. Dan dari survey kami, satu orang bayi itu menggunakan minimal 4 sampai 9 popok per hari. Jadi kalau kemudian ada 750 ribu, maka ada sekitar 3 juta popok dipakai masyarakat, yang itu berpotensi dibuang ke sungai. Ini darurat lingkungan yang serius,” jelas Prigi Arisandi.(wg/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.