Festival Kebo-Keboan Aliyan Menandai Awal Musim Tanam di Banyuwangi

Yovie Wicaksono - 24 September 2017
Ritual adat Kebo-keboan di Desa Aliyan, kecamatan Rogojampi, merupakan tradisi adat yang bertujuan untuk tolak bala (foto : Superradio/Fransiscus Wawan)

SR, Banyuwangi – Mengawali musim bercocok tanam, warga Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi memulainya dengan ritual adat. Ritual ini digelar oleh warga setempat setiap tahun memasuki 1 Muharram atau bulan Syuro.

Bermacam ritual yang dilakukan untuk tolak bala atau mengusir mala petaka, mulai digelar antara lain, Festival Tulupan pada Jumat (22/9/2017), Festival Kuliner Gule Mentok dan Festival Sonjo Bareng pada Sabtu (23/9/2017), dan acara inti yakni Ritual Kebo-Keboan yang digelar pada Minggu (24/9/2017) pagi.

Asmuni, salah satu tokoh adat sekaligus budayawan saat ditemui dikediamannya di Desa Mangir Kecamatan Rogojampi mengatakan, ritual adat Kebo-Keboan bertujuan untuk mengusir wabah penyakit, yang rutin digelar saat memasuki musim bercocok tanam, tepatnya 1 Muharram atau Syuro.

“Ritual adat kali ini bakal meriah dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Asmuni.

Ritual adat masyarakat yang kental dengan nuansa mistis ini diawali dengan selamatan di sepanjang jalan desa. Setiap kepala keluarga menyiapkan tumpeng, untuk dimakan bersama-sama setelah dipanjatkan doa oleh sesepuh adat setempat.

Dilanjutkan dengan ritual inti, dimana satu persatu warga terpilih akan mengalami kesurupan ruh kerbau yang merupakan binatang paling setia dalam membantu tugas petani bercocok tanam.

Diceritakan, tradisi ‘Kebo-Keboan’ adalah warisan nenek moyang Suku Using setempat, yang berawal dari datangnya wabah penyakit yang menyerang lahan pertanian hingga bertahun-tahun.

“Meski jaman sudah modern, tradisi kebo-keboan hingga kini tetap digelar dengan tujuan untuk melestarikan warisan nenek moyang,” imbuhnya.

Ritual kebo-keboan ini diawali dengan kenduri desa yang digelar sehari sebelumnya. Warga bergotong royong mendirikan sejumlah gapura dari janur yang digantungi hasil bumi di sepanjang jalan desa, sebagai perlambang kesuburan dan kesejahteraan.

Selanjutnya, warga pun menggelar selamatan di empat penjuru desa, yang dilanjutkan dengan ider bumi. Para petani yang didandani kerbau lalu berkeliling desa mengikuti empat penjuru mata angin.

Dikatakan juga oleh Asmuni, saat berkeliling desa inilah, para ‘kerbau’ itu melakukan ritual layaknya siklus bercocok tanam, membajak sawah, mengairi, hingga menabur benih padi.

“Selain untuk tolak bala dan keselamatan hasil cocok tanam untuk satu tahun kedepan, sekaligus untuk melestarikan adat dan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu,” pungkasnya.(wan/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.