Fatikh, Dalang Cilik Asal Ponorogo Tertarik Pada Wayang Sejak Usia 3 Tahun

Yovie Wicaksono - 8 February 2018
Fatikh, Dalang cilik asal Ponorogo (foto : Superradio/Gayuh Satria)

SR, Ponorogo – Seorang anak laki-laki dengan lihainya memainkan wayang yang biasanya dimainkan oleh seorang dalang dewasa, wayangnya pun bukan wayang mainan, melainkan benar-benar wayang kulit yang biasanya dimainkan seorang dalang dalam pentas pewayangan. Dia adalah Muhamad Fatikh Assegaf (10 tahun), siswa kelas 4 di SDN 1 Mangkujayan, Kabupaten Ponorogo.

Fatikh, sapaan akrabnya, belajar menjadi dalang sejak kelas 3 SD. Dia belajar mendalang dari seorang dalang di Ponorogo. Bahkan demi mendukung bakat putranya Fatikh, tidak hanya dibelikan wayang dan dilatih oleh dalang, orang tuanya membelikan mini set pentas pewayangan berupa geber (layar), perkakas wayang, microfon, gendang serta gamelan sebagai music pengiring saat latihan.

“Sejak kecil saya sering diajak kakek melihat wayang kulit, sejak saat itu saya tertarik untuk menjadi dalang,” kata Fatikh, Kamis (8/2/2018).

Setiap Selasa dan Kamis malam, Fatikh rutin berlatih mendalang, mulai pukul 8 sampai 10 malam. Pada setiap latihan, Fatikh terlebih dahulu berdiskusi dengan pelatihnya untuk cerita yang akan dibawakan. Bahkan tidak jarang banyak warga yang melihat Fatikh berlatih karena suara alunan gamelanny aterdengar sangat nyaring.

Dalam tokoh pewayangan, Kumbokarno menjadi tokoh yang difavoritkan olehFatikh, karena meskipun Kumbokarno adalah seorang raksasa dan berwajah jelek, akan tetapi dia menjadi pahlawan dan mati untuk negaranya. Fatikh yang mengidolakan dalang Ki Anom Suroto, kadang mengaku kesulitan saat harus menghidupkan tokoh wayang dalam sebuah cerita.

“Ketika menjadi dalang itu yang paling susah adalah menghidupkan tokoh dalam cerita pewayangan, sabetan, suluk dan catur harusjelas,” tuturnya.

Sabetan sendiri adalah ketika seorang dalang menggerakkan wayang dan mendalami cerita pewayangan, sehingga penonton dapat melihat seolah wayang itu hidup. Suluk dan catur adalah tembang atau lagu yang dikatakan dalang, keduanya harus diucapkan  dengan jelas, agar penonton mengerti alur cerita yang dibawakan oleh sang dalang.

Menurut ibunya, Sri Ekawati, Fatikh sudah terlihat menyukai dunia wayang sejak usianya mengunjak 3 tahun. Sejak usia balita Fatikh memang sudah sering diajak sang kakek untuk melihat pentas pewayangan. Bahkan Fatikh juga pernah mewakili sekolah untuk maju dalam ajang pemilihan Thole-Genduk Ponorogo 2017, dan memenangkan kategori talenta sebagai dalang cilik.

“Kakek buyut saya dulu memang seorang dalang, dan baru Fatikh ini yang bias meneruskan bakat sang kakek,” pungkasnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.