Fasilitas Publik di Surabaya Tidak Ramah Disabilitas

Yovie Wicaksono - 6 January 2019
Penyandang Tunanetra Mencoba Fasilitas Ubin Pembantu di Taman Flora Bratang Surabaya, Minggu (6/1/2019). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Memperingati Hari Braille Internasional yang jatuh pada 4 Januari, Lembaga Pemberdayaan Tunanetra (LPT) menggelar survei aksesibilitas fasilitas Taman Flora bagi penyandang tunanetra dengan melibatkan puluhan penyandang tunanetra dan masyarakat umum di Taman Flora Bratang, Surabaya, Minggu (6/1/2019).

Ketua LPT Sugihermanto mengatakan, dari survei ini diketahui Taman Flora belum ramah bagi  masyarakat disabilitas.

“Surabaya yang selama ini dikenal dengan kota ramah anak dan ramah bagi semua warganya, tapi ternyata saat kami main kesini, Taman Flora ini jauh dari kata ramah karena berdasarkan survei yang kami lakukan bersama teman-teman tunanetra mereka masih belum bisa berjalan secara mandiri, kebutuhan dasar disabilitas belum terpenuhi, kalaupun terpenuhi itu hanya sekedar menggugurkan kewajiban,” ujar Suhermanto kepada Super Radio.

Pria yang akrab disapa Sugi ini memberikan contoh ketidakramahan itu dengan ubin pemandu untuk tunanetra yang justru tidak sesuai. “Ubin pembantu ini malah diarahkan menuju ujung tempat mainan dan dibelakangnya itu ada ayunan, ketika ayunan ini bergerak dan ada pengguna tunanetra yang lewat maka akan membahayakan mereka dan orang lain,” katanya

Selain itu,di Taman Flora masih banyak jalan berundak yang tanpa bidang miring, dan tanpa pegangan yang tentunya sangat membahayakan bagi pengguna kursi roda.

Sugi berharap pemerintah bisa menciptakan fasilitas publik yang ramah bagi semua warga negara termasuk untuk penyandang disabilitas.

“Masukannya untuk pemerintah adalah bukan hanya untuk taman ini saja, tapi untuk semua ruang publik sediakan yang aksesibel untuk semua warga negara, sediakan tempat rekreatif yang murah dan bisa dijangkau dengan mudah,” tambah Sugi.

Kegiatan Ini, kata Sugi, juga sebagai sosialisasi kepada masyarakat mengenai eksistensi penyandang tunanetra dan tulisan braille.

“Kepada masyarakat, kita ingin menunjukkan bahwa disekitar mereka ada komunitas disabilitas, dan bagaimana cara menghadapi komunitas disabilitas itu adalah dengan memberikan kesempatan kepada kami, jangan dicibir, perlakukan kami sama halnya anda memperlakukan saudara atau orang lain yang non disabilitas,” jelasnya.

Selain survei aksebilitas, LPT juga mengadakan lomba bercerita sejarah lahirnya tulisan braille, dan outbond bagi penyandang tunanetra. Diharapkan rangkaian kegiatan ini, bisa membangun rasa percaya diri penyandang tunanetra.

“Melalui kegiatan hari ini, kami juga ingin membangun karakter teman-teman tunanetra yang percaya diri, memiliki kemandirian, kepedulian, keberanian, karena dalam kehidupan sehari-hari mereka akan berbaur dengan masyarakat yang non disabilitas,” kata salah satu pendiri LPT, Tutus Setiawan. (fos/red)

 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.