Fasilitas Kesehatan di Jawa Timur Semakin Lengkap, Penderita HIV Banyak Terdeteksi

Petrus - 19 March 2017
Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek bersama ODHA dan aktivis HIV AIDS di Surabaya, Desember 2016 (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menerima laporan adanya penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) baru di Kabupaten Pamekasan, sehingga menambah daftar pengidap HIV/AIDS di Kabupaten dan Kota di Jawa Timur.

Diungkapkan oleh Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Benny Sampirwanto, temuan baru penderita HIV di salah satu Kabupaten di Pulau Madura ini merupakan indikasi peningkatan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kondisi kesehatannya. Selain itu, ini menjadi indikasi fasilitas kesehatan di Jawa Timur semakin lengkap.

“Ini setelah penderita melakukan pengecekan kesehatan di salah satu Puskesmas, yang selanjutnya dirujuk di RSUD dr Slamet Martodirjo Pamekasan,” kata Benny.

Saat ini jumlah layanan fasilitas kesehatan (Faskes) untuk HIV di seluruh Jawa Timur sebanyak 729 Faskes, baik di puskesmas maupun di rumah sakit. Selain faskes,  keberhasilan peningkatan temuan penderita baru juga karena dukungan petugas kesehatan, kader, dan LSM yang aktif dalam menjangkau orang-orang yang dicurigai terinfeksi HIV.

Sampai dengan bulan Desember 2016, di Jawa Timur tercatat ada 39.034 pengidap HIV, dengan penderita AIDS sebanyak 17.314 orang, atau 44% dari jumlah kasus HIV. Kasus HIV dan AIDS ditemukan di semua Kabupaten/Kota, dengan kelompok usia penderita HIV/AIDS terbanyak adalah pada usia produktif, yakni usia 15-24 tahun, dengan komposisi laki-laki 56 persen dan perempuan 44 persen.

Untuk Provinsi Jawa Timur saja, Kota Surabaya menduduki peringkat pertama kasus HIV terbanyak hingga akhir tahun 2016, yaitu sebanyak 954 pengidap, Kabupaten Jember 639 pengidap, dan Kabupaten Tulungagung sebanyaj 410 pengidap. Sementara di Kabupaten Pamekasan terdapat 3 orang pengidap HIV sampai akhir tahun 2016, atau total 22 kasus HIV di Kabupaten itu sejak 2012.

“Dalam 5 tahun terakhir terjadi peningkatan temuan kasus HIV sekitar 2-3 persen di Jatim. Jumlah estimasi kasus HIV di Jatim sendiri diperkirakan sebanyak 57.321 kasus,” ungkapnya.

Semakin mudahnya deteksi penderita atau pengidap HIV, Benny berharap penyebaran vidus ini dpaat diketahui dan dikurangi sejak dini.

“Selain itu, dengan pengobatan yang tepat, penyakit dapat terkontrol sehingga pengidap tetap produktif,” imbuhnya.

Pencegahan penyebaran HIV oleh pemerintah telah dilakukan dengan melakukan berbagai upaya, seperti sosialisasi program penanggulangan HIV/AIDS pada beragam kelompok masyarakat terkait pengamanan darah, deteksi dini pada kelompok rentan, penggunaan alat pelindung, dan pencegahan penularan dari ibu ke anak.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.