Ekosistem Sungai Brantas Terganggu, Varietas Ikan Sungai Berkurang

Yovie Wicaksono - 25 September 2017
Sejumlah warga Kediri melakukan aktivitas memancing ikan dengan kail di pinggir sungai Brantas (foto : Superradio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Aktivitas pembuangan limbah serta ilegal fishing menjadi penyebab kerusakan ekosistem serta hilangnya sejumlah varietas ikan di sungai Brantas. Pencemaran di sungai Brantas ini diungkapkan Heri Suprayogi, Ketua Jaringan Kepedulian Terhadap Perairan Liar atau Wild Water Indonesia-Kediri.

Meski saat ini kondisi sungai Brantas masih bisa tergolong bersih, namun ekosistem yang ada di dalam banyak mengalami perubahan. Menurutnya, pencemaran di lingkungan sungai Brantas lebih disebabkan oleh limbah, yakni pembuangan sampah secara sembarangan, mencuci menggunakan deterjen di sungai, serta aktivitas penangkapan ikan tidak ramah lingkungan atau dengan cara menyetrum atau meracun.

Indikasi kerusakan ekositem dapat dilihat dari pergerakan ikan di sungai Brantas, yang cenderung menghindari sesuatu saat bergerak di dalam jalur utama sungai.

“Ini dapat dilihat dari pergerakan ikan, saat berada di dalam sungai, seperti menghindari sesuatu,” terang Heri Suprayogi.

Pencemaran sungai yang paling dominan terjadi di sungai Brantas, diakibatkan oleh pembuangan sampah secara langsung ke sungai, terutama popok dan sampah rumah tangga lainnya.

Beberapa jenis ikan yang sekarang ini sulit ditemukan diantaranya ikan dewa, ikan lempu, serta ikan belida jawa dan beberapa jenis ikan lainnya.

Untuk melestrikan ekosistem di sungai Jaringan Kepedulian Terhadap Perairan Liar Wild Water Indonesia-Kediri, terus melakukan kampanye atau himbauan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah di sungai, serta menebar bibit ikan endemik sungai Brantas.

“Berulang kali kita melakukan himbauan, dengan membuat spanduk atau selebaran yang berisi ajakan kepada masyarakat, untuk tidak membuang sampah ke sungai. Serta stop penangkapan ikan dengan strum,” kata Heri.

Setiap harinya, di sepanjang bantaran sungai Brantas, mulai dari wilayah Kabupaten maupun Kota Kediri, selalu dapat ditemui para pemancing konvensional yang menggunakan kail sebagai sarana untuk menangkap ikan sungai.

Bahkan setiap setahun sekali, seperti sudah menjadi budaya atau tradisi bagi masyarakat Kediri untuk beramai ramai mencari ikan mabuk di sungai Brantas, saat salah satu bendungan di Malang Selatan dibuka.(fl/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.