Dunia Harus Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

Yovie Wicaksono - 12 September 2018
SR, Korea Selatan – Asian Games 2018 dinilai benar-benar memperagakan secara spektakuler human capital yang luar biasa di Asia. Lebih dari 14.000 atlet dan 7.000 pejabat dari 45 negara, bertanding pada 40 cabang olah raga sehingga menjadi Asian Games terbesar dalam sejarah.
“Pada upacara pembukaan Asian Games kita senang sekali dapat mempertemukan Perdana Menteri Korea Selatan dengan Deputi Perdana Menteri Korea Utara. Dan sama halnya seperti yang dilakukan saat Winter Olympics in Pyeong-chang, para atlet dari kedua Korea jalan bersama di bawah satu bendera Korea dan bertanding bersama, di berbagai cabang olah raga,” kata Presiden Jokowi, saat memberikan kuliah umum di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) Seoul, Korea Selatan.
Menurut Jokowi, upaya untuk menciptakan perdamaian di semenanjung Korea, bukanlah satu-satunya tantangan yang sedang dihadapi dunia saat ini. Tantangan lainnya adalah tantangan keamanan, mulai dari Afghanistan, Timur Tengah, sampai Rakhine State di Myanmar.
Selain itu, populisme, proteksionisme, dan uni-lateralisme semakin meningkat  di berbagai penjuru dunia. Perubahan iklim yang tidak henti-hentinya berkontribusi pada kebakaran hutan yang dahsyat, dari California, Australia sampai Indonesia, dan pada fenomena heat wave, dari Eropa sampai Asia Selatan. Musim panas tahun ini, kota Tokyo mencetak suhu tertinggi dalam sejarah Tokyo yaitu 41 derajat Celsius.
“Konsumerisme kita yang boros membawa sampah plastik sampai bergunung-gunung membanjiri berbagai pesisir dari Bali sampai kepulauan Carribbean,” kata Jokowi.
Belum selesai dengan semua tantangan tersebut, Jokowi mengatakan bahwa dunia harus sudah bersiap dengan revolusi industri 4.0 dengan segala perubahannya yang sangat cepat. Untuk menghadapi semua itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah bersikap tenang. Ia yakin bahwa potensi dari sikap positif dan optimisme dalam hubungan internasional dan negosiasi ekonomi, pada umumnya kurang diperhitungkan.
Hal kedua yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan menurut Presiden Jokowi adalah inovasi yang datang dari eksperimentasi. Ia memberikan contoh keputusan Presiden Moon Jae-In dan Presiden Donald Trump, untuk membuka jalur dialog, dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un meski banyak dikritik orang.
“Tapi kalau saya percaya lebih baik mencoba sesuatu yang baru meskipun ada risiko gagal. Sudah begitu lama, kita menempuh jalan untuk tidak bicara dengan para pemimpin Korea Utara, dan sudah bertahun-tahun tidak ada hasilnya, sama sekali tidak bergerak menuju pada sebuah perdamaian di semenanjung Korea,” kata Jokowi.
Hal ketiga yang harus dilakukan adalah aksi. Jokowi mengajak semua mahasiswa untuk tidak merasa kecil hati jika yang bisa dilakukannya hanya langkah-langkah kecil saja.
“Saya percaya, penting untuk melakukan yang bisa kita lakukan. Seperti kata pepatah, a journey of a thousand miles, starts with a single step,” ujar Jokowi.
Jokowi juga menyampaikan langkah-langkah konkret yang telah dilakukan Indonesia, untuk menuju ke arah yang lebih baik. Langkah-langkah itu antara lain mengunjungi langsung kamp pengungsi Rohingya di wilayah Cox’s Bazaar, menggelar pertemuan ulama trilateral dengan Afghanistan dan Pakistan.
Menurut Jokowi, Korea Selatan dan Indonesia adalah mitra yang ideal untuk bekerja sama menuju sebuah agenda internasional yang progresif bagi dunia. Kedua negara menganut demokrasi, dengan demografi yang saling melengkapi, dan tahap pembangunan yang komplementer.
“Bangsa Korea adalah sebuah bangsa yang hebat. Demikian juga kami, bangsa Indonesia. Mari kita bekerja sama untuk menghadirkan hal-hal yang hebat kepada dunia,” kata Jokowi.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.