Dua Siswa SMP Ciptakan Kacamata Bagi Penyandang Tunanetra

Petrus - 9 January 2018
Kacamata buatan siswa SMP di Ponorogo yang dapat menuntun penyandang tuna netra (foto : Superradio/Gayuh Satria)

SR, Ponorogo – Galang Nurbudi Utomo (15) dan Akhmal Sulton Fatuloh (14), siswa SMPN 1 Jetis, Ponorogo, berhasil membuat inovasi kacamata penuntun penyandang tunanetra. Kedua siswa kelas IX ini bahkan berhasil meraih Juara Dua tingkat Nasional, dalam Lomba Inovasi Tingkat Pelajar.

“Kacamata ini bisa memberi tahu penggunanya jika ada barang atau orang disekitarnya dengan jarak 1,5 meter,” terang Galang, saat ditemui di SMPN 1 Jetis, Ponorogo, Selasa (9/1/2017).

Cara pemakaiannya pun cukup mudah, pengguna hanya perlu memakai kacamata yang dihubungkan dengan power bank sebagai sumber daya, lalu memasang headset sebagai pemberi tahu jika ada benda atau orang di sekitar pengguna.

“Jadi ada tiga sensor ultrasonik di depan, samping kanan dan kiri itulah yang memberitahu pengguna dalam bentuk suara,” jelasnya.

Ia menjelaskan jika sensor tersebut berfungsi untuk mendeteksi objek. Pada kacamata dilengkapi dengan 3 buah sensor, yaitu bagian depan untuk mendeteksi objek bagian depan, serta bagian kiri dan kanan untuk mendeteksi objek bagian samping.

“Ketika kacamata dipakai pengguna dan misalnya sensor depan mendeteksi objek maka speaker akan mengeluarkan suara berhenti, begitu pula dengan sensor bagian samping,” tuturnya.

Sementara untuk sensor bagian kanan dan kiri, speakernya akan mengeluarkan suara belok kanan atau kiri bila mendeteksi objek, begitu pula sensor yang lain akan mengeluarkan suara.

“Suara bisa timbul karena sensor mendeteksi objek dan komponen DF player bekerja berdasarkan pemrograman pada mikrokontroler arduino,” lanjutnya.

Galang juga menerangkan, bahwa alat yang digunakan mulai dari sensor ultrasonic 3 buah berfungsi untuk mendeteksi objek dengan mengeluarkan gelombang, micro controler arduino sebagai pusat pengendali diteruskan ke DF player yang disambungkan ke power bank sebagai daya. Kemudian ada pula Micro SD yang berisi suara perintah, serta speaker yang ditaruh di telinga pengguna.

“Peralatan semua beli secara online dan menghabiskan Rp. 250 ribu,” imbuhnya.

Dwi Sujatmiko selaku guru pembimbing menambahkan, alat buatan siswanya ini masih dalam tahap penyempurnaan, sehingga perlu diuji coba untuk mengetahi.

“Ke depan kami juga akan membuat tongkatnya, meski sebenarnya alat kacamata ini juga sudah membantu kata salah satu penyandang tunanetra saat diuji cobakan,” pungkasnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.