Dosen UNAIR Ciptakan Alat Diagnosa Toksoplasma

Yovie Wicaksono - 10 January 2017
Toxo Kit, Hasil Inovasi Tim Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Foto : (Humas Universitas Airlangga Surabaya).

SR, Surabaya – Tim Dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya kembali membuat  inovasi produk alat diagnosa toksoplosma yang bernama Toxo Kit. Pembuatan alat ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kebutuhan alat diagnosa, terutama toksoplasma. Semua biaya dan dana penelitian Toxo Kit dibiayai oleh Kemenristek Dikti.

“Pertama kali dibuat dan diteliti pada tahun 2014.Sampai saat ini alat tersebut masih dalam proses pengembangan. Pembuatan alat ini juga dalam rangka peningkatan mutu dosen,” ujar Mufasirin, salah satu tim dosen FKH UNAIR, Selasa (10/1/2017).

Cara kerja alat Toxo Kit ini hampir sama dengan alat penguji kehamilan (test pack), yakni darah pasien diambil, kemudian diendapkan, dan diteteskan ke dalam alat Toxo Kit. Setelah beberapa saat akan diketahui hasil. Jika hasil cenderung positif, maka garis yang keluar adalah dua garis. Sementara jika cenderung negatif, maka hanya ada satu garis yang akan keluar pada alat tersebut.

Toxo Kit mengandung antigen yang bekerja menangkap material di sampel atau antibodi dan dilengkapi dengan kandungan sinyal reaksi, yakni suatu materi yang akan bereaksi. Jika hasil sampel menunjukkan nilai positif, sinyal reaksi akan berubah warna. Toxo Kit memiliki sensitivitas atau keakuratan sebanyak 73.5% dan spesifitas 66,7%.

“Alat ini belum bisa dikomparasikan dengan uji toksoplasma yang konvensional, memang standarnya menggunakan Uji ELISA, namun Toxo Kit ini hadir digunakan sebagai alternatif awal sebagai diagnosa adanya toksoplasma,” tandas Mufasirin.

Selama ini, pengujian adanya toksoplasma lebih sering menggunakan alat diagnosa bernama “Uji ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)”. Namun, untuk mengetahui hasil uji, Uji ELISA dianggap memakan waktu yang lama yaitu dua hari. Sedangkan, hasil dari uji penggunaan Toxo Kit hanya membutuhkan waktu 10 hingga 15 menit.

Dengan adanya Toxo Kit ini, Mufasirin berharap, kit tersebut dapat membantu masyarakat dalam diagnosa toksoplasma yang dianggap mahal dan memakan waktu lama. Ke depan, Mufasirin dan tim juga berusaha mengoptimalisasikan alat tersebut dengan meningkatkan keakuratan dan spesifitas.

“Kita juga sudah berkomunikasi dengan salah satu produsen kimia untuk produksi alat ini. Mereka memiliki standar tersendiri untuk sebuah alat yang akan di produksi. Maka dari itu kita akan memperbaiki kualitas agar tidak banyak berubah ketika diproduksi massal,” terang Wakil Dekan II FKH UNAIR ini.

Mufasirin dan tim FKH UNAIR berencana untuk mengembangkan kit ini menjadi alat yang multiguna. Tidak hanya bisa mendeteksi Immuniglobulin G, tapi juga Immunoglobulin M. Sehingga mampu mendeteksi lebih dari satu macam penyakit.

Tim FKH UNAIR yang melakukan inovasi ini, terdiri dari Lucia Tri Suwanti, Mufasirin,  Suwarno, Meles, Hani Plumerastuti dan rekan mereka asal Mataram, Zainul. (nir/red)

 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.