Dampak Kekeringan Di Ponorogo Semakin Meluas

Petrus - 20 October 2018

SR, Ponorogo – Musim kemarau panjang yang belum berakhir membuat beberapa wilayah di Ponorogo mengalami kekeringan dan kesulitan sumber air. Sampai saat ini sudah ada 16 titik  yang berada di 14 desa dan tersebar di 8 kecamatan.

14 desa yang terdampak kekeringan adalah Dayaan (Badegan), Desa Tulung (Sampung), Desa Karangpatihan (Balong), Desa Pandak (Balong), Desa Ngendut (Balong), Desa Duri (Slahung), Kesa Kambeng (Slahung), Desa Tugurejo (Slahung), Desa Pelem (Bungkal), Desa Karangpatihan (Pulung), Desa Suren (Mlarak), Munggu (Bungkal), Desa Slahung (Slahung) dan Desa Tumpuk (Sawoo).

“Untuk desa Slahung dan Tumpuk saat ini belum bisa kami kirim air dikarenakan ketiadaan embung sebagai tempat penyimpan air sementara,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik Setyo Budiono, Jumat (19/10/2010).

Budi menerangkan sampai saat ini BPBD Kabupaten Ponorogo terus gencar melakukan pengiriman atau droping air menggunakan mobil tangki sebanyak 2 kali dalam seminggu kesetiap desa yang terdampak kekeringan.

“Karena keterbatasan mobil tangki dan lokasi desa yang kebanyakan berada di daerah pegungunan kami tidak bisa mengirim setiap hari ke setiap desa,” terangnya.

Dalam satu minggu BPBD Kabupaten Ponorogo bisa mengirim sebanyak 922 ribu liter air untuk 4.144 warga yang terdampak kekeringan. Budi menambahkan untuk bisa mengatasi kekeringan saat ini BPBD menerapkan 2 cara, jangka panjang dan jangka pendek.

“Untuk jangka panjang kami membuat sumur bor dan embung untuk beberapa desa yang terdampak, sedangkan jangka pendeknya kami lakukan dengan droping air,” ujarnya.

Namun meskipun begitu bukan tanpa kendala, dalam droping air pun BPBD kerap mengurangi volume air dari mobil tangki dikarenakan lokasi desa yang sulit dijangkau karena berada di pegunungan dan sempitnya jalan menuju ke desa.

Sedangkan untuk sumur dalam beberapa lokasi memang sudah selesai dibangun, akan tetapi debit air yang keluar masih kecil seperti di desa Karangpatihan (Pulung), selain itu juga ada desa yang memang tidak bisa dibangun sumur bor dikarenakan lokasi berada di tanah gerak.

“Debit air di Karangpatihan hanya 0,5 liter per detik, ini tidak bisa mencukupi seluruh kebutuhan warga, kami harap masuk November musim hujan segara datang,” pungkasnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.