Cegah Perdagangan Daging Anjing dan Kucing, DMFI Surati Pemerintah RI

Wawan Gandakusuma - 5 March 2019
Peter Egan, aktivis DMFI ketika berada di Pasar Tomohon, Sulawesi Utara. Foto : (DMFI)

SR, London – Aktor sekaligus aktivis berkebangsaan Inggris, Peter Egan mengklaim telah membuat permohonan kepada Pemerintah Indonesia untuk menutup perdagangan daging anjing dan kucing, setelah melakukan kunjungan ke “Pasar Ekstrim” Tomohon dan Pasar Langowan di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara bersama aktivis lain dari kampanye koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI).

“Saya telah diperingatkan tentang kondisi hewan-hewan di pasar-pasar Sulawesi Utara, tapi tidak ada satupun yang bisa mempersiapkan saya untuk menyaksikan kekejaman yang memuakkan ini. Bagian dari Kepulauan Indonesia ini dikenal dunia akan keindahan gunung berapinya, perairan yang menakjubkan sebagai surga para penyelam, dan pantai-pantai yang mempesona. Tetapi buruknya kekejaman perdagangan daging anjing dan kucing ini akan menghantui saya selamanya,” ujar Peter Egan, melalui siaran pers yang diterima Super Radio, Selasa (5/3/2019).

Peter Egan menyaksikan sendiri bagaimana anjing dan kucing dijual dan dibantai di depan sesama anjing dan kucing yang ketakutan di kandang mereka. Aktor dan aktivis kampanye DMFI ini akhirnya berhasil menyelamatkan empat anjing dari para pedagang tersebut, sesaat sebelum anjing-anjing tersebut akan dipukul dan dibakar sampai mati.

Selain itu, komedian, aktor, penulis, dan duta DMFI berkebangsaan Inggris, Ricky Gervais juga mengecam perdagangan daging kucing dan anjing, setelah menyaksikan potongan gambar Peter Egan.

“Kekejaman ekstrim dari perdagangan daging anjing dan kucing ini sangat tidak dapat diterima, baik menurut standar kesejahteraan hewan Indonesia maupun internasional, dan Pemerintah haruslah merasa prihatin tentang akibat perdagangan ini terhadap reputasi global. Dunia sedang mengamati dan menunggu tindakan tegas, sekarang!,” tegas Ricky Gervais.

Indonesia yang sangat tergantung kepada industri pariwisata, dengan lebih dari 10 juta wisatawan asing per tahun, tengah mempertaruhkannya dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap keselamatan turis dan bertambahnya ajakan untuk memboikot negara yang dinilai tidak menunjukkan niat untuk menghentikan perdagangan daging anjing dan kucing.

Pemerintah Australia pun telah mengeluarkan peringatan resmi pada laman travel mengenai Indonesia.

“Resiko rabies mengancam siapapun yang mengunjungi pasar lokal dimana hewan-hewan hidup dan makanan segar dijual, dengan kemungkinan dijualnya daging anjing yang mengidap rabies untuk konsumsi manusia, hal ini merupakan pelanggaran terhadap peraturan pemerintah dalam pengawasan penyakit, dan adanya anjing hidup yang mengidap rabies di pasar-pasar itu,” bunyi peringatan tersebut.

Ancaman terhadap pariwisata yang diakibatkan oleh kekejaman pada daging anjing dan kucing, telah diakui pada bulan Agustus 2018 oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Syamsul Ma’arif saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Kesejahteraan Hewan.

“Negara-negara asing tidak dapat menerima rendahnya tingkat kesejahteraan hewan dan kekejaman terhadap hewan dan tidak akan datang lagi ke Indonesia. Hal ini akan berakibat buruk terhadap pariwisata kita,” ujar Syamsul Ma’arif.

Koalisi DMFI telah mengirimkan surat kepada Pemerintah Pusat dan di daerah, mengimbau untuk segera mengambil tindakan tegas. Meskipun sudah bertemu dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan kantor Walikota Tomohon yang menjanjikan tindakan tegas, tapi sampai hari ini belum terlihat adanya komitmen berarti yang dilakukan oleh Pemerintah.

Sementara, Presiden Human Society International, Kitty Block mengatakan, para turis akan merasa terkejut dan marah saat mengetahui bahwa lebih dari satu juta anjing dan kucing telah dibantai di Indonesia. Semboyan “Wonderful Indonesia” sangatlah tidak sesuai untuk semua hewan yang bernasib malang tersebut.

“Kami mendesak pemerintah untuk membuktikan janjinya dan bertindak untuk mengakhiri krisis kesejahteraan hewan ini.” tandasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.