Candi Jago, Pendarmaan Raja Wisnuwardhana

Yovie Wicaksono - 15 August 2018
Candi Jago di Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Malang – Candi Jago di Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupatan Malang, memiliki keunikan tersendiri dibandingkan candi peninggalan Kerajaan Singasari lainnya. Di candi ini, mulai dari kaki candi hingga bagian teratasnya, dipenuhi panel – panel relief yang terpahat rapi.

Relief di Candi Jago bercerita tentang Siwa – Budha. Relief Budha yang dipahatkan di bagian bawah candi adalah relief cerita Tantri atau Pancatantra dan Kunjarakarna. Sedangkan  di bagian tengah sampai atas bagian candi, terdapat relief Hindu yang bercerita tentang kisah Mahabarata, yaitu cerita Partayajna, Arjunawiwaha, dan Krisna.

Berdasarkan cerita dalam relief inilah, bisa disimpulkan candi ini merupakan percampuran dari agama Hindu – Budha, sesuai dengan agama yang dianut Wisnuwardhana selaku raja keempat Kerajaan Singasari.

Candi Jago ini dibangun pada tahun 1268 Masehi atas perintah Raja Kartanegara sebagai tempat pendarmaan ayahnya, yaitu Raja Wisnuwardhana.

Juru pelihara Candi Jago, Mulyanto (55) mengatakan, perwujudan Wisnuwardhana sebagai Budha diketahui dari Arca Amoghapasa yang terdapat di halaman Candi Jago. Amoghapasa merupakan dewa tertinggi dalam ajaran Budha Tantrayana.

“Candi Jago ini simbol Wisnuwardhana sebagai Budha, sedangkan Wisnuwardhana sebagai Hindu disimbolkan di Candi Mleri yang ada di Kabupaten Blitar” kata pria yang sudah 13 tahun menjadi juru pelihara Candi Jago, kepada Super Radio, Rabu (15/8/2018).

Wisatawan Saat Berkunjung di Candi Jago. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Penamaan Candi Jago berasal dari kata Jajaghu yang dikutip dari kitab Negarakertagama. Jajaghu memiliki makna ‘keagungan’ atau tempat suci.

Candi Jago memiliki panjang 24 meter x lebar 14 meter dan tinggi 10,5 meter (tinggi aslinya 15 meter, diduga karena dulu atapnya terbuat dari kayu jadi mudah rapuh dan rusak) dan terbuat dari batu andesit.

Bangunannya didirikan diatas batur berteras tiga semakin kecil ke atas, sehingga di masing-masing teras terdapat selasar untuk mengelilingi candi. Teras ketiga agak bergeser kebelakang merupakan teras tersuci.

Susunan bangunan yang berteras-teras ini merupakan bentuk yang umum ditemui pada bangunan zaman megalitikum, yaitu bangunan punden berundak sebagai tempat pemujaan arwah leluhur.

Candi Jago dibuka setiap hari mulai  07.30 – 16.00 WIB. Jumlah pengunjung jika di rata-rata dalam satu bulan bisa mencapai seribu orang.  Pengunjung pun bervariasi, mulai dari pelajar hingga turis mancanegara.

“Pada bulan Juni didominasi oleh pengunjung mancanegara, sedangkan di bulan September didominasi oleh pelajar,” pungkas Mulyanto. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.