Bupati Banyuwangi Pompa Semangat Pemuda Lintas Agama di Kemah Kebangsaan

Yovie Wicaksono - 22 August 2017
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas membuka kemah kebangsaan yang diikuti oleh ratusan pemuda lintas agama (foto : Superradio/Fransiscus Wawan)

SR, Banyuwangi – Ratusan pemuda lintas agama mengikuti kemah kebangsaan di Wana Wisata Sumbermanis, Lingkungan Suko Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwnagi. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengingatkan pentingnya generasi muda untuk tidak melupakan sejarah serta para tokoh yang ikut membangun bangsa.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas meminta agar seluruh peserta atau muda mudi masa kini ‎mempelajari sejarah dari tokoh-tokoh nasional. Anak-anak muda sekarang, kata Azwar Anas, jangan hanya bisa membaca facebook, tapi harus mau membaca buku-buku sejarah yang dapat memberikan inspirasi.

“Banyak tokoh nasional yang mengukir sejarah saat usianya masih sangat muda. Bahkan usia beliau sama dengan usia peserta yang hadir di sini,” kata Azwar Anas.

Azwar Anas mencontohkan ketokohan Soekarno, sang Proklamator. Di usianya yang masih belia, Soekarno sudah merantau ke Surabaya dan tinggal di pondokan tokoh Sarikat Islam (SI) HOS Tjokroaminoto.

Jalinan kebangsaan dan keagamaan ini juga bisa dilihat dari relasi Bung Karno dengan tokoh Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, dan tokoh Persis Ahmad Hassan. Bung Karno juga menjadi Presiden pertama yang mengutip ayat Alquran di depan forum PBB.

“Bahkan, Bung Karno menghadap KH Hasyim Asyari untuk meminta fatwa soal nasionalisme, dan dijawab pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu, bahwa membela Tanah Air adalah jihad fisabilillah,” paparnya.

Bupati juga menyinggung persoalan kebangsaan Indonesia, yang jangan hanya menjadi teori di dalam kelas saja. Untuk itu perlu langkah nyata seperti kemah kebangsaan, seperti yang diikuti para pelajar dan ormas dari latar belakang yang berbeda, dengan melakukan bedah rumah sebagai salah satu contohnya.

Azwar Anas menegaskan, setiap daerah bertugas untuk menjahit persatuan bangsa, agar tidak sampai muncul perbedaan yang sebenarnya bukan dari latar belakang agama tapi menjadi agama.

“Maka dari itu, keadilan ekonomi, politik dan keadilan sosial itu penting, apabila semuanya berjalan dengan baik maka ideologi-ideologi radikal diyakini tidak akan tumbuh subur di tempat ini,“ tandas Azwar Anas.(wan/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.