Biskuit Suweg ala Siswa SMA

Yovie Wicaksono - 3 November 2017
Guru Pembimbing dan Siswi Kelas XI SMAN 3 Ponorogo, Berhasil Raih Juara I Lomba Kreativitas Remaja (LKR) tingkat Karasidenan Madiun. Foto : (Superradio/Gayuh Satria)

SR, Ponorogo Suweg atau porang yang biasanya hanya menjadi tumbuhan liar di kebun ternyata bisa diolah menjadi biskuit. Ditangan Andiarini Mega Pertiwi, Elwigia Irma Rosantriani dan Hanik An Nur Maria, siswi kelas XI SMAN 3 Ponorogo, suweg bisa “disulap” menjadi biskuit.

Temuan ini, membuat mereka berhasil meraih juara pertama dalam Lomba Kreativitas Remaja (LKR) tingkat Karasidenan Madiun yang digelar oleh Fakultas Pertanian, Universitas Merdeka Madiun.

Total dibutuhkan waktu dua bulan untuk mengajukan penemuan mereka dalam lomba soal  ketahanan pangan nasional itu.

Dipilihnya suweg karena kebutuhan beras yang semakin tinggi sehingga membutuhkan diversikasi makanan dari bahan lain serta umbi jenis ini paling mudah didapat dan harganya murah.

“Saya mengambil suweg ini di pekarangan belakang rumah, kebetulan memang banyak,” kata Andriani, Kamis (2/11/2017).

Andriani mengatakan, cara membuat biscuit dari suweg adalah dengan mengolah suweg menjadi tepung. Suweg yang telah dikupas dan dipotong-potong kemudian direndam semalaman kedalam larutan garam untuk menghilangkan getah suweg yang dapat membuat gatal. Kemudian dijemur sampai kering baru bisa digiling untuk dijadikan tepung.

“Jika panas terik dalam satu hari sudah kering, kalau mendung bisa dua tiga hari baru kering,” terangnya.

Hasil dari eksperimen ini, satu toples biscuit suweg dijual hanya Rp.12 ribu, sedangkan untuk ukuran yang sama seperti biscuit, namun tidak menggunakan tepung, bisa dijual sekitar 20 ribu per toples.

“Selain membuat biskuit, suweg juga kami buat untuk bahan bubur dan kroket,” jelas Andriani.

Pembuatan bubur menggunakan tepung suweg adalah dengan cara menambahkan tepung beras dan air. Semua bahan dicampur dan diaduk sampai mendidih. Sedangkan untuk pembuatan kroket tepung suweg digunakan untuk tekstur kroketnya. Bahan dasar tetap menggunakan kentang.

Siti Nur Wahidah, guru pembimbing ketiga siswa tersebut mengatakan semua ide berasal dari siswa itu sendiri. Pada awalnya ada banyak makanan yang diolah menggunakan tepung suweg, namun akhirnya yang dipilih adalah biskuit, bubur, dan kroket (biuret).

“Semua bentuk dari kreativitas siswa sendiri, bahkan ada anak kelas XII yang membuat rainbow mie dari mbote,” katanya. (gs/red)

 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.