Bioethanol Eceng Gondok Ini Berhasil Juarai LKTI se-Jawa

Petrus - 27 October 2017
Tiga siswi SMPN 1 Jetis, Ponorogo menunjukkan piala Juara 1 LKTI se-Jawa dengan karya bioethanol dari eceng gondok (foto : Superradio/Gayuh Satria)

SR, Ponorogo – Eceng gondok enceng gondok biasanya dianggap hama tananman yang mengganggu bagi petani. Namun ternyata eceng gondok memiliki banyak manfaat setelah diolah secara benar. Salah satunya seperti yang dilakukan tiga siswi SMPN 1 Jetis, Ponorogo. Tanaman bernama latin Eichhornia crassipes ini dapat diubah menjadi gel bioethanol sebagai energi terbarukan.

Mar’aa Refina Robbah, Dinar Ayu Pratiwi, dan Ravynda Febyola Haidar, siswi kelas IX ini berhasil membuat gel bioethanol berbahan dasar eceng gondok. Ketiganya meyakini jika selama ini bioethanol berbentuk cair mudah sekali menguap, diharapkan dengan diubah menjadi bentuk gel, maka dapat lebih awet secara penyimpanan dan pemakaian.

Ketua kelompok tim LKTI SMPN 1 Jetis, Mar’aa Refina Robbah (14 tahun) saat ditemui menerangkan, mereka berhasil menjuarai lomba karya tulis ilmiah (LKTI) IX tingkat SMP/MTs se-Jawa yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Pendidikan IPA Universitas Negeri Yogyakarta, pada 30 September 2017 lalu.

“Kami menyisihkan 100-an proposal penelitian lainnya, dan kami mendapat Piala Gubernur dalam perlombaan ini,” terangnya kepada superradio.id, Kamis (26/10/2017).

Mar’aa menambahkan dirinya bersama tiga orang temannya melakukan penelitian selama sebulan, berbekal berbagai jurnal ilmiah, mereka berhasil membuat gel bioethanol. Mar’aa pun tak sungkan membocorkan cara pembuatannya. Awalnya eceng gondok seberat 10 kg dimasukkan ember dan kemudian diberi air 3 liter serta diberi ragi sebanyak 100 gram. Lalu difermentasikan dan dibiarkan selama 14 hari.

“Itu untuk mendapatkan bioethanol dari eceng gondok,” tuturnya.

Setelah 14 hari didiamkan, kemudian air hasil fermentasi didestilasi menggunakan alat khusus. Air bioethanol dari eceng gondok itu pun jadi. Kemudian air bioethanol dicampur metil selulosa dan beberapa bahan kimia lainnya.

“Dari 10 kg eceng gondok dihasilkan 200 ml bioethanol,” paparnya.

Dengan bioethanol sekitar 200 ml ini dapat digunakan untuk memasak sekitar 2 jam penuh, dan api yang dihasilkan pun besar. Penemuan ini dinilai bermanfaat hanya dengan mengolah bahan yang ada di sekitar.

“Tidak hanya untuk bioethanol, eceng gondok juga bisa dimanfaatkan sebagai tenaga baterai,” tuturnya.

Cara yang dilakukan yaitu eceng gondok tersebut dihaluskan. Kemudian eceng gondok dimasukkan di dalam wadah baterai bekas. Daya yang dihasilkan cukup besar yaitu untuk eceng gondok basah sebesar 2,4 volt dan eceng gondok kering 3,6 volt.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.