Berkunjung ke Rumah Guru Bangsa

Yovie Wicaksono - 21 July 2018
Rumah HOS Tjokroaminoto di Kawasan Peneleh Surabaya. Foto : (Super Radio/ Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Rumah milik Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto yang berada di Jalan Peneleh Gang VII No. 29 – 31, Genteng, Surabaya, menjadi saksi lahirnya pemimpin besar dengan pemikiran dan ide bagi Indonesia.

Diantaranya, Soekarno dengan konsep nasionalisme. Semaoen, Alimin, dan Musso dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dengan pemikiran Islam yang radikal (Negara Islam Indonesia/NII)

Tak heran kemudian, Tjokroaminoto dikenal sebagai guru para pendiri Bangsa Indonesia.

Di era 20 an, rumah ini digunakan Tjokroaminoto untuk mengajar dan berdiskusi dengan para aktivis muda, termasuk Soekarno yang  tinggal di rumah ini selama kurun waktu 1916-1921.

Tjokroaminoto sendiri adalah salah satu pendiri sekaligus ketua pertama organisasi Sarekat Islam yang sebelumnya dikenal Sarekat Dagang Islam.

Rumah peneleh ini merupakan kediaman Tjokroaminoto selama tinggal di Surabaya. Istri Tjokroaminoto, Soeharsikin, pada kisaran tahun 1912 membuka rumahnya sebagai tempat kost bagi para pelajar Hogere Burge School (HBS) yang merupakan sekolah Soekarno pada masa itu, dan untuk para pelajar sekolah-sekolah milik Pemerintah Hindia Belanda lainnya.

Di rumah Peneleh yang tak seberapa luas itu,  Tjokroaminoto tinggal bersama istri, dan kelima anaknya, Oetari yang sekaligus menjadi istri pertama Soekarno pada tahun 1921, Oetarjo Anwar, Harsono, Islamiyah, dan Sujud Ahmad.

Mereka sekeluarga tinggal di bagian depan, sementara bagian belakang rumah disekat menjadi sepuluh kamar kecil. Di kamar kecil itulah Soekarno, Alimin, Musso, Soeherman Kartowisastro, Semaoen, dan lainnya tinggal dan menjadi murid Tjokroaminoto.

Di mata Soekarno, Tjokroaminoto dikenal sebagai pribadi yang keras dan berprinsip kuat. Hal ini seperti yang tertuang dalam catatan di rumah Tjokro. Meski begitu, diam-diam Soekarno memujanya karena dari Tjokroaminoto ia belajar tentang dunia. Tjokroaminoto juga memberi Soekarno buku, dan sejak saat itu Soekarno tenggelam dalam apa yang disebutnya “dunia pemikiran”.

Latar belakang yang berbeda diantara mereka yang tinggal di rumah Tjokro, membuat rumah ini disebut sebagai “rumah pergerakan”.

Tjokroaminoto tinggal di Surabaya selama 15 tahun dan meninggal di Yogyakarta, 17 Desember 1934 di usianya yang ke 52 tahun. Ia dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta.

Foto Para “Penghuni” Kost Rumah HOS Tjokroaminoto. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Rumah Tjokroaminoto, baru terbuka untuk umum tahun 2008. Pada 27 November 2017 , Walikota Surabaya, Tri Rismaharini meresmikan rumah ini menjadi Museum Hos Tjokroaminoto dan menjadi cagar budaya kategori A, berskala nasional. Museum ini buka dari hari Selasa – Minggu, sejak 09.00 – 17.00 WIB.

“Banyak orang yang berkunjung kesini karena tau Bung Karno pernah kost disini, bukan karena tau ini rumah Pak Tjokro. Bahkan banyak yang tidak kenal sosok Pak Tjokro, padahal dialah yang mengenalkan politik ke Bung Karno dan guru besar dari beberapa tokoh nasional,” kata Achmad Yanuar, penjaga Museum HOS Tjokroaminoto kepada Super Radio, Sabtu (21/7/2018).

“Ini kunjungan pertama kali saya, dan rasanya mau datang lagi karena banyak koleksi buku yang menarik. Di sini saya juga belajar banyak mengenai sejarah, mengenal sosok Pak Tjokro. Apalagi rumah ini saksi bisu dari sejarah tokoh-tokoh penting di Indonesia” kata Ranggi Guntur, salah satu pelajar di Surabaya yang mengunjungi Museum HOS Tjokroaminoto.

Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat adalah salah satu trilogi Tjokroaminoto yang tertulis jelas di rumah ini. Trilogi inilah yang menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masa itu.

Pesan lainnya dari Tjokroaminoto yang terpajang di rumah ini adalah “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator”. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.