Belajar Agama di Pesantren, Sambil Belajar Wirausaha

Wawan Gandakusuma - 19 December 2018
Ahmad Fatahilah (kiri), santri Ponpes Lirboyo, Kediri, mengenalkan roti produk Ponpesnya. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Disela-sela kesibukan belajar sebagai santri, Ahmad Fatahilah, bersama para santri lainnya memiliki keterampilan dalam hal membuat roti. Bakat yang dimilikinya itu digunakan untuk membantu pengembangan usaha roti di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur.

“Kalau pagi sampai sore, kita bikin roti. Menjelang malam kita masih memiliki tanggungan Sekolah Diniyah (Sekolah Keagamaan),” ujarnya pada Super Radio, Selasa (18/12/2018).

Pemuda yang berasal dari Bondowoso, Jawa Timur ini mengaku, keterampilannya dalam membuat roti, diperoleh setelah mendapat pembekalan pelatihan langsung dari petugas Kementerian Perindustrian.

“Pelatihannya hanya 10 hari dan itu langsung dibimbing dari pihak Jakarta sana,” urainya.

Dalam sehari, para santri bisa memproduksi roti sebanyak seribu roti kemasan plastik. Bahan dasar yang dipergunakan sebanyak 1 kuintal tepung. Roti yang dijual harganya bervariatif antara Rp1.500 hingga Rp2.000. Roti kemasan plastik berbentuk bulat dan lonjong ini, memiliki beberapa varian rasa antara lain coklat pisang, selai nanas dan krim keju. Karena belum memiliki merk, maka penjualan roti sementara ini hanya bisa dipasarkan untuk kalangan terbatas.

“(Roti dipasarkan di lingkungan) pesantren saja dan belum memiliki nama. Maunya sih diberi nama Lirboyo Bakery. Dari Lirboyo untuk Indonesia,” tandas Fatahilah penuh semangat.

Ketika dimakan, tekstur rotinya memang lembut di lidah. Dengan harga minimalis, tentunya hal ini tidak terlalu memberatkan kantong para santri. Omset yang didapat dalam pengolahan pembuatan roti dalam sehari sebesar Rp1,5 juta.

Selain bantuan peralatan pengolahan roti, ternyata pihak Kementrian Perindustrian juga memberikan bantuan pengadaan barang ke Pesantren Lirboyo, berupa alat pengelolaan daur-ulang sampah, serta mesin depo air isi-ulang.

Unit pengolahan sampah kini bisa memproduksi 1,7 ton per bulan dan mendapatkan hasil sebesar Rp17 juta dalam sebulan tersebut.

“Ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama antara pemerintah dengan masyarakat, terutama bagi para alumni serta para santri, untuk bersama-sama membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih baik. Oleh karena itu saya mendorong santriwan santriwati, selepas lulus dari pondok, dapat meningkatkan jumlah wirausahawan baru dan berkontribusi mengembangkan pemberdayaan ekonomi berbasis Pesantren,” ungkap Gati Wibawaningsih, Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM), Kementerian Perindustrian, dalam kunjungannya di Lirboyo.

Kementerian Perindustrian mencatat, selama tahun 2018 telah memfasilitasi tiga belas Pondok Pesantren dalam pengembangan kewirausahaan.

“Tiga belas Pondok Pesantren sudah kita fasilitasi tahun ini. Pada dasarnya sih kita masih di ke Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Karena disitulah banyak santri-santri,” imbuh Gati Wibawaningsih.

Diketahui, Ponpes Lirboyo memiliki santri sebanyak 23.586 orang. Ponpes ini sekarang mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan operasionalnya dengan memiliki beberapa unit usaha. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.