Kisah Aswin Nugroho, Insan dengan Down Syndrome yang Menjadi Wirausahawan Kue Kering

Wawan Gandakusuma - 26 March 2019
Suasana peringatan Hari Down Syndrome Se-Dunia di Surabaya, Senin (25/3/2019). Foto : (Wawan Gandakusuma/Super Radio)

SR, Surabaya – “Mencari sesuatu yang dia bisa kerjakan, supaya siapa tahu nanti ada hasil dia kelak bisa mandiri”. Kalimat motivasi ini dituturkan oleh Herawati, ibunda Aswin Nugroho, insan dengan down syndrome di Surabaya. Kalimat yang diucapkannya ini, seolah mengekspresikan bahwa dirinya tidak akan lelah menyemangati Aswin untuk berwirausaha membuat kue-kue kering dengan rasa keju strawberry, keju gula palem, dan kastangel.

Di sela-sela kegiatan peringatan Hari Down Syndrome Se-Dunia dengan tajuk “Down Syndrome Hebat”, yang diadakan di sebuah hotel di Jln.Mayjen Soengkono, Surabaya, Senin (25/3/2019), Herawati mengaku tergugah mengajak putranya berwirausaha sejak empat bulan terakhir, karena putra semata wayangnya itu punya bakat dan minat yang besar berada di dapur untuk membuat kue.

“Di samping itu, kakaknya juga memotivasi supaya kegiatan-kegiatan positif yang diikuti Aswin, bisa menghasilkan nilai lebih. Aswin kan bisa main piano, bisa renang, tapi itu semua kan tidak menghasilkan uang. Saya akhirnya mendatangkan guru les (kursus) membuat kue kepada Aswin. Dan akhirnya jalan sampai sekarang,” tutur perempuan yang berusia 60 tahunan ini.

Linda Kurniawati, guru kursus kue Aswin, juga turut memaparkan bahwa sangat menyenangkan mengajar Aswin, karena pemuda dengan down syndrome ini tergolong cerdas dengan hitungan angka-angka.

“Sangat bagus dia. Karena dia udah tahu angka, mulai dari nimbang (bahan-bahan kue) dan semua proses dia yang pegang. Di dua bulan pertama dia memang masih didampingi Mamanya, terus berikutnya sampai hari ini dia sudah mandiri membuat kue bersama saya dan teman-temannya. Kualitas produknya sangat bisa diadu lah. Buktinya di awal event ini saja, kue kita sudah laku 25 toples” kata Linda.

Soal pemasaran kuenya, Linda juga membantu menawarkan produk anak didiknya tersebut di berbagai kegiatan semisal di pameran-pameran, di kantin sekolah-sekolah berkebutuhan khusus, dan di link-link kegiatan lainnya.

“Senangnya bisa mengajar Aswin adalah dia mempunyai semangat yang tumbuh dari dirinya sendiri. Dia nggak moody dan sudah mengerti tanggung jawab pekerjaannya,” ucap Linda.

Ketika berada di lokasi acara, Super Radio melihat pemuda berusia 27 tahun ini begitu ramah menyambut calon pembeli yang berkunjung di stannya. Dibantu oleh guru, ibunda, dua temannya yang juga berkebutuhan khusus, Aswin sibuk menjajakan kue keringnya yang berbandrol 15 ribu hingga 35 ribu rupiah per toples.

Kembali Herawati menuturkan, Aswin tipikal penyandang down syndrome yang mempunyai semangat untuk menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, dan Herawati bangga dengan hal itu.

“Semangatnya luar biasa justru. Mungkin kalau anak biasa sudah capek ndak dikerjakan, kalau anak saya dikerjakan terus sampai selesai. Saya juga heran kok,” ujarnya.

Namun bukan berarti Aswin memulai usaha ini tidak dengan tantangan. Herawati mengatakan, beberapa anggapan orang sempat membuat dirinya patah semangat.

“Kalau di komunitas sendiri mudah. Kalau di komunitas lain agak susah. Pernah teman saya bilang, ah kalau (usaha) kayak gini sih biasa. Sempat down juga. Padahal ini kan pekerjaan susah. Tapi saya dan anak saya harus semangat menjalankan usaha ini, apalagi sebentar lagi saya udah pensiun dari pekerjaan saya,” tutur perempuan yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah pabrik obat ini.

 

Aswin Nugroho, penyandang down syndrome di Surabaya, saat membuat kue kering. Foto : (dokumen pribadi Herawati)

 

Down Syndrome Bukan Penghalang untuk Berprestasi

Aswin bukanlah satu-satunya insan dan anak down syndrome yang memiliki talenta bagus di komunitas POTADS (Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome) Jawa Timur. Tercatat beberapa yang lain, juga memiliki prestasi di bidangnya masing-masing. Ada wirausahawan minuman buble tea, pudding, balerina, sampai juara cabor Bowling di pentas Pornas VIII 2018 Special Olympics Indonesia (SOINA) di provinsi Riau.

Diungkapkan oleh Farida Martarina, Ketua POTADS Jawa Timur, anak-anak down syndrome yang berprestasi, menjadi motivasi tersendiri bagi para orang tua di komunitas ini bahwa putra-putri yang down syndrome bukan sebuah aib bagi keluarga.

“Keberadaan anak-anak ini adalah sebuah anugerah yang harus kita bina. Kita sebagai orang tua punya tanggung jawab. Itu yang menjadi faktor utama motivasi kami kepada kebanyakan para orang tua anak down syndrome yang masih merasa malu, takut dihina, dan bayangan mitos dosa asal orang tua. Itu yang harus dihilangkan, karena itu bertentangan dengan fitrah manusia. Anak-anak kan terlahir suci,” tegas perempuan yang akrab dipanggil Rina ini.

Mengenai upaya POTADS Jawa Timur untuk berdialog dengan berbagai kalangan, Rina mengaku, hal itu sudah dilakukan oleh pihaknya di berbagai kesempatan semisal di forum-forum terkait di kampus-kampus dan lembaga pemerintahan.

“Kami seringkali mengadakan aksi-aksi mandiri di berbagai forum. Dengan harapan, agar anak-anak down syndrome yang ada di tengah-tengah kita ini diterima dengan apa adanya. Berilah mereka kesempatan, karena mereka juga punya masa depan seperti kita,” kata Rina.

Sekedar diketahui, Hari Down Syndrome Se-Dunia diperingati setiap tanggal 21 Maret. Dan peringatannya di Surabaya tahun ini, diselenggarakan oleh POTADS Jatim bersama Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Provinsi Jawa Timur dan Yayasan Kesehatan Anak Indonesia (YKAI). Selain terdapat aneka stan pameran produk dari penyandang down syndrome, acara ini juga diisi dengan berbagai kegiatan semisal pemeriksaan kesehatan anak, story telling, permainan ketangkasan, pentas seni tari dan fashion show, yang diikuti oleh 250 anak dengan down syndrome beserta orang tuanya. (wg/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.