Arca Purbakala Dwarapala Peninggalan Kerajaan Ditemukan di Kediri

Petrus - 29 September 2017
Penemuan arca Dwarapala di dalam tanah pekarangan rumah warga, di Desa Adan Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri (foto : Superradio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Sebuah arca Dwarapala ditemukan terpendam di dalam tanah pekarangan rumah warga di Desa Adan Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Benda Purbakala ini diperkirakan merupakan peninggalan dari jaman Kerajaan Kadiri.

Dwarapala merupakan patung penjaga gerbang atau pintu, yang dalam ajaran Siwa dan Buddha, berbentuk manusia atau monster. Dwarapala biasa diletakkan di luar candi, kuil atau bangunan lain, untuk melindungi tempat suci atau tempat keramat di dalamnya. Dwarapala digambarkan sebagai makhluk yang menyeramkan, dengan jumlah arca dapat hanya sendirian, sepasang, atau berkelompok, tergantung kemakmuran suatu kuil atau candi.

“Yang kita temukan satu arca Dwarapala untuk saat ini. Kami masih mencari pasangan arca tersebut, karena biasanya Dwarapala berpasangan. Tetapi disebelah kiri hanya ditemukan pecahan, jadi kita belum tahu apakah memang dulu ada tapi sudah hancur. Mudah mudahan ini peninggalan jaman kerajaan Kadiri, karena dari Prasasti belum ada yang menunjukkan, coba kita bandingkan,” ujar Sukowati Sesatyo, Ketua Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Meski memperkirakan benda purbakala tersebut merupakan peninggalan jaman kerajaan Kadiri, namun tim Arkeolog belum berani memastikan apakah tempat tersebut dibangun pada masa masuknya agama Hindu atau Buddha. Hal ini karena hingga hari ini tim masih belum menemukan adanya arca Dewa di lokasi.

“Sementara kita simpulkan jika tempat ini merupakan bangunan suci atau tempat pemujaan,” kata Sukowati, Kamis (28/9/2017).

Sukowati menjelaskan, arca Dwarapala merupakan sosok penajaga bangunan suci yang biasanya ditempatkan di ruang depan. Selain mencari pasangan arca Dwarapala, tim juga terus melakukan penggalian untuk menemukan struktur bangunan.

Dari hasil penggalian tersebut, tim menemukan reruntuhan batu bata merah yang sudah dalam kondisi tidak tersusun secara sistematis. Pencarian situs purbakala ini sudah mulai dilakukan sejak hari Minggu yang lalu.

“Yang kita cari di sini adalah peninggalan arkeologi, karena tahun lalu kita menemukan Makara serta beberapa batu candi,” lanjutnya.

Tim terdiri dari 9 orang, yakni dari Dinas Pariwisata, BPCB, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Universitas Malang serta ahli Geologi dari Yogyakarta.(fl/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.