Angka Kebutaan di Indonesia Ditargetkan Turun pada 2020

Petrus - 12 October 2018

SR, Surabaya – Setiap 11 Oktober diperingati sebagai Hari Penglihatan Sedunia. Surabaya menjadi tempat penyelenggaraan puncak peringatan secara nasional, yang dihadiri Menteri Kesehatan Nila Moeloek.

Pada peringatan Hari Penglihatab Sedunia di Suraabaya, Menteri Keaehatan secara resmi meluncurkan Sistem Informasi Penanggulangan Gangguan Mata (Sigalih), yang merupakan aplikasi untuk mempercepat penanggulangan dan pengurangan angka gangguan penglihatan di Indonesia.

Hingga tahun 2017, prevalansi kasus kebutaan di Jawa Timur mencapai 4,4 persen atau yang tertinggi di Indonesia. Sekitar 2,9 persen kasus kebutaan diakibatkan oleh katarak. Khusus di Jawa Timur, gangguan penglihatan mencapai sekitar 176.000 orang, dengan angka katarak sebanyak sekitar 41.000 orang.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengajak semua pihak, termasuk para dokter mata yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), untuk melakukan upaya penanggulangan katarak melalui bakti sosial operasi katarak. Selain operasi katarak, Nila menyebut aplikasi Sigalih dapat dimanfaatkan untuk deteksi dini kelainan mata secara tepat, agar dapat diambil tindakan berupa operasi katarak.

“Kita sebenarnya mesti kerja keras sekali, ini sudah tinggal dua tahun lagi. Oleh karena itu, kita bikin sistem Sigalih ini, agar betul-betul bahwa yang mana yang harus dioperasi,” kata Nila Moeloek.

Menteri Kesehatan menyampaikan apresiasi upaya dokter mata mengurangi angka katarak, melakukan bakti sosial operasi katarak. Hal ini tentu saja sangat membantu pemerintah, terutama bagi penderita yang selama ini menjadi tanggungan BPJS.

“Jadi tidak hanya mengikuti BPJS, tetapi bisa mandiri, tapi juga ada yang disebut bakti sosial,” ujar Nila.

Nila menambahkan, operasi katarak saat ini merupakan cara untuk mengatasi mata katarak, namun masih perlu terus dilakukan kampanye pencegahan dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kesehatan mata.

Target penurunan angka gangguan mata, khususnya katarak ini sangat penting, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum yang salah satu faktornya ditentukan dari kesehatan masyarakat.

“Lima ratus ribu minimal, kita harus lakukan operasi katarak, per tahun. Kekuatan kita, kita perhitungkan baik dengan adanya kekuatan dokter mata, kekuatan finacial dan sebagainya, kita ambil, cut dulu di 200 (ribu). 500 ribu saja dilakukan operasi itu sudah lebih baik, karena kalau enggak, sisanya jadi backlock, nanti tahun depan jadi satu setengah juta, terus menerus seperti itu,” papar Nila.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur menargetkan 66.000 hingga 81.000 tindakan operasi katarak dapat dilakukan, untuk menurunkan angka penderita katarak di Jawa Timur hingga tahun 2020. Tindakan operasi katarak secara intensif diharapkan dapat menurunkan angka kebutaan sebesar 25 persen, atau menjadi 3,3 persen pada tahun 2020.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Kohar Hari Santoso mengakui, angka kasus kebutaan di Jawa Timur adalah yang tertinggi secara nasional, namun penanganan kasus yang dilakukan Provinsi Jawa Timur juga paling tinggi dibandingkan provinsi yang lain.

“Kita tertinggi di antara provinsi yang lain, tapi dari capaian yang sudah kita kerjakan juga yang paling tinggi, jadi dibanding kegiatan kita, survelancenya bagus, jalan, kemudian penanganan juga sudah bagus,” ujar Kohar.

Wakil Direktur RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Hendrian menjelaskan, tingginya gangguan mata, termasuk katarak di Jawa Timur, lebih disebabkan faktor geografis Indonesia yang berada di kawasan tropis, dengan radiasi sinar ultraviolet yang cukup tinggi.

Paparan sinar matahari langsung itu dapat mengganggu penglihatan. Pencegahan dapat dilakukan, salah satunya dengan melindungi mata dari radiasi langsung sinar matahari.

“Geografis di Jawa Timur itu daerah pantai, sehingga banyak masyarakat yang terpapar ultraviolet sehingga insidennya banyak. Memakai pelindung mata, salah satunya pakai topi, pakai payung, pakai kaca mata anti UV pada saat terpapar sinar matahari,” kata Hendrian.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.