Ambruknya Jembatan Widang Tuban Diduga Akibat Kelebihan Muatan

Petrus - 22 April 2018
Ir Chomaedhi CES GEO pakar konstruksi ITS berbicara penyebab ambruknya jembatan Widang, Tuban (foto : Humas ITS)

SR, Surabaya – Pakar konstruksi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Ir Chomaedhi CES GEO menduga ada kelebihan muatan yang menjadi penyebab patahnya jembatan Widang yang menghubungkan antara Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Tuban.

Saat jembatan cicin lama yang dibangun tahun 1983 itu roboh, ada satu dump truck dan dua truk tronton yang melewati bentang jembatan, yang diduga dalam kondisi kelebihan muatan. Padahal sudah ada peraturan yang mengatur berat beban yang diperbolehkan saat melewati jembatan.

Menurut dosen Teknik Infrastruktur Sipil ITS ini, bila sebelumnya jembatan kelas satu memiliki batas muatan 45 ton, saat ini dapat mencapai 50 ton. Sementara untuk kasus jembatan Widang, beban total yang mampu ditahan jembatan hanya 45 ton dengan rasio toleransi keamanan 1,5 atau beban maksimumnya 70 ton.

“Satu dump truck dan dua tronton bisa jadi peningkatan bebannya mencapai dua persen, dugaan utamanya kelebihan muatan,” kata Chomaedhi.

Penjelasan Chomaedhi ini didukung dengan fakta posisi robohnya jembatan, dimana patahan hanya terjadi pada satu bentang jembatan, sedangkan pondasi masih berfungsi dengan baik.

“Kalau truk itu lewat secara bergantian, mungkin jembatan masih aman. Tapi kalau lewat secara bersamaan, otomatis jembatan akan collaps,” ujarnya.

Chomaedhi juga menyoroti kemungkinan tidak adanya kontrol terhadap beban yang boleh melewati jembatan, sebagai salah satu faktor penyebab jembatan patah. Bahkan di area sekitar jembatan tidak ditemukan adanya jembatan timbang yang berfungsi sebagai control besaran muatan yang diizinkan.

“Jembatan itu sudah lama, jika mengikuti peraturan baru dari pemerintah yang bisa mark up hingga 20 persen, tentunya tidak akan kuat,” jelas Chomaedhi.

Chomaedhi menyarankan agar perbaikan Jembatan Widang memperhatikan berat beban yang diizinkan. Kemajuan teknologi saat ini memungkinkan control beban muatan dengan menggunakan teknologi berupa sensor yang dipasang pada titik-titik tertentu di sepanjang bentang jembatan, sebagai pendeteksi kondisi kemampuan jembatan menahan beban yang melintas di atasnya.

“Peraturan itu harus dipatuhi, jembatan harus benar-benar mengakomodasi peraturan beban kendaraan dan peraturan gempa tentunya,” tandasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.