Energi Alternatif dari Kemiri Sunan

Petrus - 24 February 2017
Titi Prapti Utami penemu dan yang mengembangkan Kemiri Sunan sebagai alternatif energi (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Pemerintah dan akademisi didorong untuk segera mencari dan memaksimalkan alternatif energi yang dimiliki Indonesia, agar dapat digunakan sebagai energi baru dan terbarukan. Kemiri sunan yang memiliki nama latin Aleurites trisperma Blanco merupakan salah satu energi yang bisa dikembangkan dan pemanfaatan sebagai salah satu energi alternatif.

Tanaman yang disebut juga Kemiri China, atau Jarak Bandung ini merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki potensi sebagai sumber bahan bakar atau biodiesel. Tanaman ini berasal dari Filipina dan masuk ke Indonesia pada masa kolonial Belanda.

Penemu dan yang mengembangkan Kemiri Sunan sebagai energi alternatif, Titi Prapti Utami mengatakan, penelitian dan pengujian telah dilakukan bersama bersama sejumlah universitas, termasuk Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, yang menegaskan energi alternatif yang dapat dihasilkan dari Kemiri Sunan.

Berawal dari penemuan Kemiri Sunan saat dirinya bersama tim melakukan penanaman Jarak pagar di lahan dengan luas sekitar 1.200 hektar, di kawasan Kati Gede, Jawa Barat. Tidak ditemukannya nilai ekonomis dari Jarak Pagar, mengantar Titi menemukan tanaman Kemiri yang memiliki buah di setiap ujung rantingnya. Setelah dilakukan uji coba laboratorium, Kemiri itu ternyata menghasilkan minya mentah atau crude oil dengan masa bakar yang lama.

“Jadi kesimpulan kami, Kemiri ini mengandung karakter fuel yang tinggi, nah kita bawa ke beberapa universitas untuk meneliti lebih lanjut,” ujar Titi Prapti Utami.

Nama Sunan ditambahkan pada Kemiri yang ditemukan itu karena pertama kali dikembangkan, diberikan dan ditanam di Pondok Pesantren Sunan Drajad di Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Dimulainya pengembangan energi alternatif ini menjadi harapan baru, dan awal pengembangan energi alternatif yang baru dan terbarukan.

“Pada tahun 2008 setelah kami yakin, ini kami daftarkan ke Dirjenbun di Kementerian Pertanian dengan nama Kemiri Sunan,” kata Titi.

Serangkaian uji coba yang dilakukan bersama PT. Agrindo, perusahaan yang bergerak di bidang mesin pertanian, diperoleh minyak mentah antara 54 hingga 62 persen. Selain produksi utama berupa biodiesel yang berlimpah, Kemiri sunan juga menghasilkan etanol atau alkohol murni.

“Dari 100 persen crude bisa diambil biofuelnya minim 90 persen, maksimum 98 persen. Jadi ini potensinya sangat besar untuk energi Indonesia, apalagi tanaman ini sangat baik tumbuh di daerah marginal, panas, minim air, dan berbatu,” ungkap Titi yang merupakan Direktur Utama PT. Energi Baru Santosa.

Pengembangan Kemiri Sunan menjadi prospek pengembangan ekonomi di Indnesia, karena selain dapat menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan dan berkesinambungan, menanam Kemiri sunan dapat memberikan pendapatan lebih bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

“Selain prosesnya yang tidak butuh biaya besar, Kemiri Sunan sudah dapat berbuah setelah usia 3 tahun sejak ditanam. Dalam satu pohon yang berbuah, menghasilkan sekitar 20 sampai 40 kilogram biji kemiri kering. Sedangkan bila sudah berusia dewasa antara 7 hingga 10 tahun, setiap tahunnya mampu menghasilkan sekitar 100 kilogram biji kemiri kering,” terangnya.

Biji Kemiri Sunan yang diolah haruslah kemiri yang jatuh sendiri, karena kemiri yang dipetik tidak mengeluarkan minyak. Biji Kemiri Sunan dikeringkan dibawah panas matahari selama 1 hari, kemudian biji dihancurkan dan diperas hingga menghasilkan minyak mentah. Pengembangan Kemiri Sunan ini sangan mungkin dilakukan oleh masyarakat, karena pengolahan dapat menggunakan mesin yang digerakkan secara manual, sehingga di tempatnya sendiri masyarakat dapat mengolah dan memanfatkan hasilnya.

“Itu bisa jadi 30 persen biodiesel murni, 45 persen crude oil, karena crude oil mutunya sangat bagus, itu bisa langsung dipakai untuk perahu nelayan, mesin traktor dan mesin pertanian lainnya,” kata Titi.

Penelitian yang dilakukan Titi pada 2006, berhasil mendapatkan biodiesel murni pada 2012 bersama ITS. Biodiesel murni yang dihasilkan memiliki mutu yang sangat baik, dengan bilangan cetane number atau kekuatan daya ledak sangat tinggi.

“Paling rendah 54, rata-rata 57. Perbandingannya solar Pertamian di SPBU angkanya 49, Dex 51, Pertadex yang baru 53, nah milik kita minim 54 rata-rata 57, maksimum 63,” lanjut Titi.

Produk yang dihasilkan dari Kemiri Sunan (foto : Superradio/Srilambang)

Produk bahan bakar dari Kemiri Sunan ini diklaim Titi sebagai zero waste atau nol limbah, karena seluruh bagian dari pengolahan biji Kemiri Sunan dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai, antara lain etanol, tinta cetak, karet bermutu tinggi untuk kondensor listrik, serta produk pembasmi hama dan rayap.

“Sampai lebih dari 30 persen, itu bisa ditarik dan dijadikan bahan untuk kosmetik dan medikal yang sangat tinggi harganya. Jadi ini dari awal sampai akhir tidak ada sampahnya,” imbuhnya.

Menanam Kemiri Sunan diyakini akan mendapat banyak manfaat, terutama pendapatan dari hasil olahan minyak mentah dan turunannya, limbah yang bisa dimanfaatkan dan menghasilkan uang, serta manfaat penghijaun dengan menanam Kemiri Sunan.

“Mampu memberikan kanopi atau tutupan hingga 40 meter bila tinggi pohon dewasa mencapai 20 meter. Akarnya tunjang yang berfungsi menyimpan air hujan, sehingga kawasan yang ada pohon ini akan mudah memperoleh sumber mata air. Suhu disekitarnya juga turun antara 3 sampai 6 derajad celcius,” ungkapnya.

Sebagai negara agraris atau pertanian, Titi berharap pemerintah mulai melirik tanaman Kemiri Sunan ini sebagai alternatif energi, serta penggerak ekonomi masyarakat. Potensi ini diyakini Titi, dapat membawa negara Indonesia keluar dari kemiskinan terutama pada daerah atau wilayah yang selama ini terpinggirkan.

Pemerintah diharapkan mengembangkan energi alternatif dengan menanam Kemiri Sunan, dimana Indonesia memiliki lahan tidur mencapai 60 juta hektar. Dengan menanam tanaman ini, masyarakat tidak perlu lagi dipusingkan dengan mahalnya harga bahan bakar di luar Jawa atau di daerah terpencil, karena sudah dapat menghasilkan sendiri energi alternatif dari Kemiri Sunan.

“Kemiri sunan sangat bagus tumbuhnya di daerah kurang air, kalau ini dilakukan maka Indonesia akan kaya tanpa harus mengeduk minyak bumi,” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.